Vincent Rumahloine: Maluku Itu, Merdu, Pantai, dan Senyum








Masih melanjutkan postingan saya sebelumnya, yang merespon karya Vincent Rumahloine, kali ini Vincent sendiri yang akan bercerita banyak tentang pendapatnya soal passion dan ceritanya soal “membangun kampung halaman.”

Vincent Rumahloine adalah lulusan FSRD ITB, saat ini ia banyak menghabiskan waktunya menjadi kontributor lepas di Rumah Cemara, sebuah rumah rehabilitasi yang beroperasi di daerah Geger Kalong, Bandung. 

Karena passionnya adalah “berkarya untuk mengerti manusia dan saya” ia menegaskan sebagai anak muda, penting sekali untuk memiliki passion di dalam hidup, supaya kita tahu apa yang kita kerjakan, untuk apa kita kerjakan, dan bisa belajar dari apa yang kita kerjakan itu. Ia sendiri mulai memotret sejak tahun 2005, awalnya karena ia suka sekali melihat Om dan Tantenya memotret pada saat acara keluarga, dan terkesan sekali dengan kemampuan sebuah kamera untuk merekam moment, “menurut saya itu sangat magical, dan saya senang sekali memotret manusia dengan kegiatannya” jelasnya lebih lanjut. 




Dua karya Vincent yang terdapat pada Solo Exhibition-nya Melainkan Tentang Kamu #2: FAMILY PORTRAIT yang masih berlangsung di Kampung Pulosari, di bawah jembatan Pasupati, Bandung


Beberapa project foto yang pernah ia kerjakan antara lain: fotografi komersial seperti foto model/fashion, foto wedding pra wedding, foto event untuk majalah dan foto dokumenter. Ia juga banyak mengerjakan foto dokumenter dan foto essay untuk projek personal dan juga untuk media seperti BBC, Reuters, Alliance, dan Rumah Cemara. 

Ketika bertanya tentang cita-cita dan adakah hal lainnya yang ingin ia kerjakan selain memotret, ia pun bercerita “dulu ingin jadi arsitek saat SMA, hanya masuk IPS jadi pupus sudah harapan. Saya ingin jadi seniman bukan fotograger. Fotografi adalah salah satu media saya berkarya, mungkin di masa yang akan datang, saya akan menggunakan media lain, tergantung konsepnya. Untuk sekarang fotografi saya nilai paling cocok, untuk konsep saya dalam berkarya. Selain memotret saya ingin jadi antropolog.”

Vincent yang berdarah Maluku, memang menghabiskan waktunya sejak lahir di Bandung. Tetapi baru-baru ini, ia punya kerinduan yang sangat dalam untuk pulang ke Maluku dan pergi ke Pulau Seram untuk mencari tahu banyak hal tentang roots-nya. “Setiap manusia dibentuk lewat kejadian di masa lalu  atau kebiasaan yang diturunkan secara turun temurun.  Jadi sebagai bentuk rasa terima kasih atas semua kejadian yang membentuk kita jadi pribadi yang sekarang ini, alangkah baiknya kita membangun kampung halaman kita, dari mana pun kita berada. Sederhananya agar identitas kita tidak hilang, kita harus membangun identitas itu agar bertahan terus.”

“Ayah adalah inspirasi terbesar saya, he’s good and smart. Harapan saya terhadap Maluku, semakin bergejolak dan berani punya statement tentang apapun tanpa harus tunggu apa yang terjadi di Jawa. Informasi sekarang gampang di akses, Maluku bisa jadi trendsetter, pakai kekuatan dari media seperti moluccaproject.com ini!”

Terima kasih, Vincent, semoga dalam waktu dekat, kerinduan untuk pulang ke Maluku dapat direalisasikan, dan ditunggu karya-karya kamu selanjutnya. 

Comments