Skip to main content

Tiara Salampessy: Maluku itu Tampa Putus Pusa











“Bagi saya pribadi memotret itu adalah obat. Obat yang membantu saya bisa terlepas dari trauma pasca kerusuhan sosial di Ambon, Maluku. Dari fotografi saya bisa melepaskan rasa takut, bisa berinteraksi kembali dengan orang lain. Saya bisa kembali fokus dengan sebuah kegiatan. Saya bisa menjadi lebih tenang dan yang paling penting saya bisa kembali percaya diri.” Ujar gadis berkacamata yang saat ini sedang menyelesaikan kuliah Jurnalistiknya di sebuah Universitas di Jakarta. 

Tiara yang saat itu membantu saya dalam pemotretan merchandise Molucca, di salah satu kafe di daerah Kemang, tampak cantik dalam balutan blouse, rok, dan stocking. Sekilas ketika mengenalnya, kesan pertama yang muncul adalah anaknya pemalu. Tetapi lama kemudian, mengalir cerita-cerita seru darinya. 

Ternyata Fotografi dan dirinya memang sudah seperti “soulmate,” ia sudah akrab dengan foto sejak kecil, karena ayahnya adalah seorang wartawan surat kabar di Kota Ambon, “biasanya setelah papa pulang kerja atau sedang libur dan masih ada sisa roll kosong (ketika itu masih jaman kamera analog dan menggunakan roll film), pasti saya menjadi model papa. Dia terkadang juga suka mengajari saya caranya memotret” lanjut Tiara. 

Menulis, fotografi, memasak, dan fashion adalah beberapa hal yang menjadi passion-nya. Bagi Tiara, sangat penting ketika anak mudah harus memiliki passion, karena menurutnya, akan sangat sulit ketika berkreatifitas tetapi tidak didasari dengan passion, dan ketika bekerja sesuai dengan passion, pasti kita akan dengan senang hati dan tulus mengerjakannya. 

Karena pada saat ini, Tiara merantau di Jakarta, ia berpendapat bahwa “membangun Maluku” harusnya bisa tetap dilakukan, salah satunya dengan terus menjaga keamanan dan kenyamanan Maluku, kemudian melakukan banyak kegiatan-kegiatan kreatif. “Kita orang-orang Maluku memiliki segudang talenta dan bakat, jangan mau kalah dengan daerah-daerah lain. Bagi anak-anak Maluku yang merantau, kita bisa membangun Maluku di daerah lain, ya dengan prestasi-prestasi yang kita raih. Kita harus merubah tanggapan orang mengenai Maluku. Usahakan kita selalu mempromosikan keindahan alam dan budaya Maluku, dan kalau bisa kitamengajak orang-orang untuk datang berkunjung ke Maluku,” cerita Tiara yang juga bercita-cita suatu hari nanti bisa keliling Maluku untuk memotret dan menulis tentang Maluku. 






Ketika masih di SMA, Tiara pernah terpilih mewakili Maluku pada program “Crossing Boundaries: Cross Culture Video Making Project For Peace” yang dibikin oleh The Interseksi Foundationdi Bogor. Karena programnya Cross Culture (lintas budaya), ia kebagian tugas untuk membuat film dokumenter di Makassar. Berbekal pengetahuan dari narasumber asal Makassar yang berbagi cerita soal daerahnya, ia lalu dapat ide bikin film pendek kisah petani sayur di pinggiran kota, yang memanen dan menjual hasil kebunnya itu ke pasar di Kota Makassar dengan bersepeda. Film pendek itu ia beri judul, Sebelum Subuh, cerita Tiara yang selain mengidolakan kedua orang tuanya, ia juga mengidolakan Oscar Matuloh, Jacky Manuputty, Diera Bachir, dan Nicole Patricia Malina. 




“Maluku semakin banyak didatangi orang untuk belajar tentang perdamaian, karena daerah ini sudah menjadi laboratorium perdamaian, seperti yang diharapkan teman-teman pekerja kemanusiaan, tokoh agama dan pemerintah di daerah ini.” Adalah harapan Tiara, sebagai penutup obrolan kami waktu itu. Kamipun harus berpisah, karena saya harus kembali ke Bandung, dan ia harus melanjutkan sisa malam minggunya. 

Dalam hati saya yang paling dalam, harapan Tiara adalah juga harapan saya!

(Keterangan Foto: semuanya adalah dokumentasi pribadi Tiara Salampessy, silakan follow di instagram @tiaraphotoworks)






Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata