Skip to main content

Keluarga Versi "Family Portrait" Karya Vincent Rumahloine












Pertanyaan pertama apa itu keluarga? Konsep “ideal” keluarga di sekitar kita adalah yang “lengkap” dalam artian ada satu Bapak, satu Ibu, satu atau dua anak, jika masih ada Kakek dan Nenek akan lebih baik. Tetapi di sisi lain, ada juga keluarga yang tidak lengkap. Di sekitar kita banyak sekali hanya ada Ibu dan Anak, atau Bapak dan Anak, atau bisa jadi hanya ada Ibu dan Bapak, atau malahan hanya ada anak seorang diri. 

Pertanyaan kedua adalah kapan terakhir kali melakukan sesi “foto keluarga”? jika pertanyaan ini ditanyakan kepada saya, saya akan menjawab bahwa tidak pernah. Maksud saya dalam hal ini tentunya adalah acara “foto keluarga” yang lengkap, yang biasanya sering kita temui fotonya dipajang di ruang tamu, dengan pose tertentu yang sengaja diatur (seakan akan semua harus bahagia), memakai seragam tertentu yang sepertinya sudah disepakati bersama, lalu seperti yang sudah dibahas di atas, isi bingkai “foto keluarga” tadi harus lengkap. Jika masih hidup semua akan lebih baik lagi. 

Jika hal ini harus dikaitkan dengan keluarga saya. Maka saya mungkin adalah salah satu yang tidak “ideal” itu, karena keluarga saya tidak pernah mengenal acara “foto keluarga.” Satu-satunya “foto keluarga” lengkap versi saya adalah, ketika saya mungkin masih berumur satu atau dua tahun, di foto ini Bapak saya mengenakan kemeja, celana panjang, dan sepatu necis, sedang duduk di kursi. Ibu saya mengenakan dress selutut dengan sepatu hak tingginya, sedang menggendong saya yang waktu itu hanya mengenakan setelan baju tidur dan muka yang mau menangis ketika melihat ke kamera, lalu di samping Ayah, berdiri Kakak perempuan saya yang nomer dua, dan di samping Ibu berdiri Kakak perempuan saya yang nomer satu. Keduanya menggunakan dress sama. Jika dihitung-hitung maka itu adalah “foto keluarga” saya yang pertama, sekaligus terakhir, dan yang paling lengkap. 

Foto keluarga itu pun tidak saya besarkan dengan bingkai tebal yang biasanya sering kita lihat di ruang tamu. Foto keluarga itulah hanya saya letakkan di bingkai kecil yang menghiasi meja menulis saya sekarang. 

Hal ini yang coba diceritakan oleh Vincent Rumahloine, seniman foto, lewat pameran tunggalnya berjudul Melainkan Tentang Kamu #2 project: Family Portrait. Vincent mengabadikan “family portrait” di Kampung Pulosari RT 09/RW 15, Kecamatan Bandung Wetan, Kelurahan Taman Sari, Bandung. Lokasi Kampung ini berada tepat di bawah jembatan Pasupati dan dekat dengan sungai Cikapundung. 

Bagi Vincent, kenapa “family portrait” menarik, karena ketika menjalankan project ini, ia menemukan banyak konsep “keluarga” yang ternyata tidak seideal pada umumnya. Ternyata ia malah menemukan banyak sekali versi keluarga yang tidak lengkap, dan banyak konsep keluarga ideal yang luruh. Karena pada kenyataannya memang di luar sana banyak keluarga yang tidak lengkap. 

Semoga ketika datang di pameran ini, kita dapat belajar dari keluarga keluarga yang ada di Kampung Pulosari, mungkin ketika Vincent mengajak “foto keluarga” yang dimaksud, tidak semua hadir dengan versi yang lengkap, berseragam bagus, atau dengan dandanan yang necis, tapi paling tidak ekspresi mereka ketika difoto memang murni, tidak dibuat-buat, tidak diatur-atur. Mereka mungkin adalah versi yang tidak sempurna, tapi bukankah itulah arti keluarga: ketika tidak sempurna, kesanalah kamu akan pulang. 




Comments

Popular posts from this blog

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…