Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2015

Tiara Salampessy: Maluku itu Tampa Putus Pusa

“Bagi saya pribadi memotret itu adalah obat. Obat yang membantu saya bisa terlepas dari trauma pasca kerusuhan sosial di Ambon, Maluku. Dari fotografi saya bisa melepaskan rasa takut, bisa berinteraksi kembali dengan orang lain. Saya bisa kembali fokus dengan sebuah kegiatan. Saya bisa menjadi lebih tenang dan yang paling penting saya bisa kembali percaya diri.” Ujar gadis berkacamata yang saat ini sedang menyelesaikan kuliah Jurnalistiknya di sebuah Universitas di Jakarta. 
Tiara yang saat itu membantu saya dalam pemotretan merchandise Molucca, di salah satu kafe di daerah Kemang, tampak cantik dalam balutan blouse, rok, dan stocking. Sekilas ketika mengenalnya, kesan pertama yang muncul adalah anaknya pemalu. Tetapi lama kemudian, mengalir cerita-cerita seru darinya. 
Ternyata Fotografi dan dirinya memang sudah seperti “soulmate,” ia sudah akrab dengan foto sejak kecil, karena ayahnya adalah seorang wartawan surat kabar di Kota Ambon, “biasanya setelah papa pulang kerja atau sedang li…

Debora Manusama: Maluku itu Tanah Raja Raja!

Debora Manusama adalah seorang penulis, translator, blogger, dan Ibu. Saya ingat sudah membaca beberapa tulisannya di blog, ketika belum jadi dot com. Dan pada saat itu ia masih menjadi produser pada sebuah radio di Jakarta. 
Kita bisa menikmati tulisan-tulisannya di www.deboramanusama.com dengan berbagai macam artikel-artikel pendek yang menarik. Saya percaya bahwa anak muda Maluku bisa memberikan pengaruh kepada orang lain, salah satunya melalui media: blog. Deb, begitu ia biasa disapa, sudah melakukannya sejak lama.
“Menginspirasi orang lain melalui tulisan-tulisan jujur dan mudah dimengerti. Pada artikel-artikel yang aku tulis baik di blog pribadi maupun media lain. Selain itu, menikmati musik, media, film, dan membangun keluarga” adalah jawabannya ketika ditanya soal passion. Lebih lanjut, Deb menjelaskan “kalau kita tidak menemukan passion kita, bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan maksimal? Hidup terlalu singkat untuk dijalani tanpa passion! Hampa dan tidak bertujuan. Passi…

Vincent Rumahloine: Maluku Itu, Merdu, Pantai, dan Senyum

Masih melanjutkan postingan saya sebelumnya, yang merespon karya Vincent Rumahloine, kali ini Vincent sendiri yang akan bercerita banyak tentang pendapatnya soal passion dan ceritanya soal “membangun kampung halaman.”
Vincent Rumahloine adalah lulusan FSRD ITB, saat ini ia banyak menghabiskan waktunya menjadi kontributor lepas di Rumah Cemara, sebuah rumah rehabilitasi yang beroperasi di daerah Geger Kalong, Bandung. 
Karena passionnya adalah “berkarya untuk mengerti manusia dan saya” ia menegaskan sebagai anak muda, penting sekali untuk memiliki passion di dalam hidup, supaya kita tahu apa yang kita kerjakan, untuk apa kita kerjakan, dan bisa belajar dari apa yang kita kerjakan itu. Ia sendiri mulai memotret sejak tahun 2005, awalnya karena ia suka sekali melihat Om dan Tantenya memotret pada saat acara keluarga, dan terkesan sekali dengan kemampuan sebuah kamera untuk merekam moment, “menurut saya itu sangat magical, dan saya senang sekali memotret manusia dengan kegiatannya” jelasnya…

Keluarga Versi "Family Portrait" Karya Vincent Rumahloine

Pertanyaan pertama apa itu keluarga? Konsep “ideal” keluarga di sekitar kita adalah yang “lengkap” dalam artian ada satu Bapak, satu Ibu, satu atau dua anak, jika masih ada Kakek dan Nenek akan lebih baik. Tetapi di sisi lain, ada juga keluarga yang tidak lengkap. Di sekitar kita banyak sekali hanya ada Ibu dan Anak, atau Bapak dan Anak, atau bisa jadi hanya ada Ibu dan Bapak, atau malahan hanya ada anak seorang diri. 
Pertanyaan kedua adalah kapan terakhir kali melakukan sesi “foto keluarga”? jika pertanyaan ini ditanyakan kepada saya, saya akan menjawab bahwa tidak pernah. Maksud saya dalam hal ini tentunya adalah acara “foto keluarga” yang lengkap, yang biasanya sering kita temui fotonya dipajang di ruang tamu, dengan pose tertentu yang sengaja diatur (seakan akan semua harus bahagia), memakai seragam tertentu yang sepertinya sudah disepakati bersama, lalu seperti yang sudah dibahas di atas, isi bingkai “foto keluarga” tadi harus lengkap. Jika masih hidup semua akan lebih baik lagi.…