Skip to main content

'mungkinkah sesuatu yang baik datangnya dari Maluku?' Nathalia Yuniar Rumthe Berbagi Soal Harapannya Kepada Generasi Muda Maluku





Ketika mengerjakan web ini, hati saya dituntun untuk mengangkat profil orang-orang Maluku. Biasanya mereka adalah orang-orang yang menarik, kedapatan telah melakukan sesuatu, atau mereka yang seumur hidupnya menjalankan passion atau panggilan hidupnya dengan tekun dan pantang menyerah. 

Saya lalu dipertemukan secara random dengan beberapa orang. Mereka berbagi cerita. Kemudian saya menuliskannya. 

Dalam hati saya berharap, semoga apa yang saya tuliskan, dapat memberikan inspirasi kepada pembaca. Karena ternyata banyak kabar baik dari Maluku yang dapat saya ceritakan. Syukur-syukur, cerita saya di web ini dapat menjadi warisan yang baik.  

Kali ini saya akan menulis tentang seorang perempuan, sudah lama ia bergelut dalam bidang penerjemahan, tetapi penerjemahan yang ia lakukan cukup spesial, karena ia menerjemahkan Alkitab ke dalam salah satu bahasa suku yang ada di Maluku Tenggara Barat, yaitu suku Yamdena. Ia adalah Nathalia Yuniar Rumthe. June, biasanya ia disapa. Ia adalah kakak perempuan saya. 

Usia kami terpaut enam tahun, saya ingat saya masih duduk di bangku kelas enam SD, ketika June harus pergi meninggalkan Kota Ambon, karena harus melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ia mengambil jurusan Sastra Jepang. Ketika itu, ia lulus seleksi PBUD (seperti PMDK, kepanj. pemilihan bibit unggul daerah) dan diundang langsung oleh UGM untuk berkuliah di sana. Bayangkan ia tidak tes, ia diundang oleh UGM. 

Perpisahan kami sedih. Saya ingat, pergi dengan Ibu untuk mengantarnya berangkat dengan kapal di pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. Waktu itu, menggunakan kapal jauh lebih murah dibandingkan pesawat.

Ketika ia harus naik kapal, saya menangis tersedu-sedu, saya membenamkan kepala saya lama di dadanya, dan ia berbisik kepada saya untuk jangan lupa belajar. Kemudian ia tetap pergi, berlayar dengan kapal meninggalkan saya, yang kecil, dan masih menangis. 

Tetapi kini ia pergi, bukan hanya menjadi seorang penerjemah, tetapi juga menjadi seorang fasilitator etnoart untuk mengembangkan seni lokal suku-suku di Indonesia.  

Saya bertanya tentang apa yang menjadi passion-nya, ia menjawab tegas, “Music dan language.” Ia lalu menambahkan bahwa “Anak muda yang tidak punya passion itu bisa dibilang bak tubuh tanpa jiwa, kelihatannya saja masih hidup tapi sebenarnya sudah mati.”

June menceritakan  perjalanannya sebagai seorang penerjemah Alkitab ke bahasa Yamdena, Maluku Tenggara Barat, “Setelah lulus dari Fakultas Sastra Jepang UGM, ada dua fase yang saya lewati dalam hidup: yang saya anggap sebagai konfirmasi dari Tuhan bahwa Dia ingin saya lebih maksimal dalam memakai talenta yang Dia berikan. Fase pertama yaitu gagal bekerja di Jepang dan fase kedua yaitu gagal bekerja dengan satu NGO terkenal dunia. Saya diarahkan ke satu lembaga misi yang melayani secara lintas budaya dengan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa suku. Saya justru mengambilnya, padahal sebagai tenaga misi, kami justru tidak digaji. Kami harus melakukan ‘self support’ atau mencari dukungan finansial sendiri.”


June paling kiri, bersama teman-teman tim penerjemahnya. 

Ternyata memang tidak gampang menjadi seorang misionaris. Pergi ke daerah dan melayani. Belum lagi jika harus mencari dukungan finansial. Selain itu ada tidak hal sulit lainnya ketika menjadi seorang penerjemah, tanya saya lagi, “Hm, how could you deal with different culture.” Jawabnya. 

June menyinggung sedikit tentang pendapatnya untuk membangun Maluku, “Bangun Maluku atau Malu-ku, bagi saya yang penting saat ini adalah bagaimana menanamkan budaya ‘malu’ kepada generasi muda yang sudah tidak lagi memiliki rasa malu. Anak muda Maluku pada saat ini, gampangan, malas, dan maunya senang-senang saja. Punya banyak potensi, namun sayang tidak menyadari memilikinya. Kesalahan ini bukanlah 100% kesalahan mereka, generasi sekarang hanya mengimitasi contoh atau teladan dari atas dan sekeliling mereka.” 

“Well, mungkin tidak semuanya anak muda ya, karena ada juga anak muda yang cukup bertanggung jawab terhadap masa depan mereka. Anak muda Maluku butuh lebih banyak contoh, baik contoh individu, maupun contoh komunitas yang bisa memberikan dampak positif, supaya bisa menjadi panutan.” Tambah June, kemudian.  

Saat ini June, memilih untuk terus menjalankan panggilannya menjadi seorang penerjemah dan ethnomusicolog. Ia juga berencana suatu hari nanti bisa membukukan pengalaman melayaninya dalam konteks budaya. Dan dengan kemampuan bernyanyinya, ia juga bercita-cita untuk membuat album musik daerah nusantara dan sebuah konser daerah nusantara. 




Anak-anak Yamdena. 

Ketika sedang berada di Kota Ambon ia suka sekali pergi ke pantai Hukurila, karena pantainya yang hangat dan tenang. Kemudian ketika ditanya soal siapa inspirasi terbesarnya, ia menjawab “Camron Townsend (uncle Sam) dan my beloved mom.” 

Saya lalu mengakhiri obrolan kami dan meminta June untuk menuliskan apa yang menjadi harapannya terhadap Maluku, “Kemanapun saya pergi saya dikenal sebagai orang Maluku, dan sebaliknya sayapun akan memperkenalkan Maluku dimanapun saya berada. Saat ini mungkin ada banyak orang yang menanyakan pertanyaan seperti ‘mungkinkah sesuatu yang baik datangnya dari Maluku?’ saya akan menjabat tangan mereka dan menjawab ‘tentu saja! Saya salah satu yang baik itu.’ Harapan saya, semoga ada lebih banyak lagi anak Maluku di luar sana yang juga menjawab demikian.”  

Ibu kami meninggal pada bulan Maret, setahun yang lalu. Saya sendiri ketika menulis ini merasa bangga, karena Ibu meninggalkan sebuah warisan yang baik, dan itu ada di kakak perempuan saya. 



    

Comments

  1. Bangga dengan Kk Une.
    Sukses terus utk melayani Tuhan lewat musik dan budaya, Kk Une 😊

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Terharu ingin ikut menangis saat baca bagian kak June harus naik kapal utk ke Jogja.

    Semangat terus kak June. Proud of you! :*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…