Skip to main content

Tentang Musik Bagus Amboina: Review Album Cinta Ambon Loleba Project





Photo dari figgypapilaya.com


Saya mau bercerita tentang mereka. Hari Jumat yang lalu (14 February 2014) tepat ketika hari kasih sayang, saya diundang untuk membawakan acara launching album sekaligus konser cinta Ambon oleh Loleba Project. Saya tidak sendiri, melainkan ditemani dengan Gerry Pelmelay.

Ini adalah proyek keroyokan oleh Figgy Papilaya, Carlo Labobar, Cello Quezon, Delon Imlabla, Ronny Bonaparte, Aditya Titaley, Michael Mailuhu, Frans “hayaka” Nendissa, Grace Huwae. Sebelumnya beberapa nama yang ada tergabung dalam beberapa proyek, seperti Par-C, Huheba, kemudian ketika beberapa diantara mereka berkumpul, akhirnya tercetus ide untuk membentuk sebuah proyek bernama “Loleba Project.”

Arti kata Loleba sendiri adalah sebuah tali pengikat atap. Tali itu berasal dari serutan pohon kelapa. Ia mungkin hanya sebuah tali kecil. Tetapi bayangkan fungsinya, ia sebagai pengikat, ia sebagai pemersatu.

Di malam itu mereka akhirnya meluncurkan album mereka bertajuk, Cinta Ambon. Saya akan cerita sedikit tentang album mereka. Sebagai orang awam yang jarang sekali menikmati musik asli Ambon. Setiap kali pulang ke Ambon saya  hanya menemukan musik musik remix tidak jelas dengan lirik-lirik yang “padede” (baca: istilah Ambon untuk “cengeng”) dan saya sendiri merindukan sebuah musik bagus khas Ambon dengan lirik-lirik yang kuat dan penuh harapan.

Loleba project berhasil memuaskan kerinduan saya. Album Cinta Ambon memiliki 11 track. Dengan 9 lagu dan beberapa medley. Mereka me-remake kembali beberapa lagu lama seperti “Sio Mama” ciptaan Melky Goeslaw. Kemudian track favorit saya sendiri adalah “Nusaniwe” ciptaan Jhon Pattirane. Nusaniwe juga adalah single pertama Loleba sudah diluncurkan duluan.

Album Cinta Ambon ini sendiri membawa semangat baru. Campuran aransemen vokal dan musik juga rap membuat basudara yang mendengarkan album ini seperti pulang ke rumah, duduk di teras minum teh sore-sore ditemani pisang goreng hangat dan cerita ringan mama dan papa.

Selain itu ada satu track Medley Permainan yang ada di album ini. Dari mulai Lemon nipis, Sahureka reka, Tumbu balanga, Tumbu kalapa, dan Enggo lari. Seperti di bawa pulang kembali di masa kanak kanak, bau matahari dan keringat, sekaligus keceriaan anak-anak.

Album Cinta Ambon berisi dua kata: “Panggel Pulang” bahwa kemanapun kita pergi, kakimu akan kembali ke tanah raja-raja. Seperti Loleba yang kebanyakan mengikat atap rumah. Mendengarkan album ini seperti membuat basudara pulang ke rumah.


*jangan lupa beli albumnya info @lolebamusic atau hubungi. 085216558199. Tulisan ini juga pernah diposting di www.perempuansore.blogspot.com pada 23 February 2014. 

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata