Skip to main content

Tentang Maluku: Tampa Putus Pusar





Photo diambil oleh saya, dari belakang hotel The Natsepa


Perjalanan selalu mengisahkan banyak. Dan sebagai seorang perantau, perjalanan pulang ke tampa putus pusar adalah sebuah hak istimewa. Tempat putus pusar, dengan kata lain adalah tempat dimana kita akan selalu memiliki hubungan emosional yang tidak bisa dipungkiri.


Maluku adalah tampa putus pusar beta. Dan akhir tahun selalu menjadi sebuah perjumpaan yang sakral dengannya. Kembali pulang bukan karena keharusan. Tetapi pulang karena tanah yang memanggil. Ada keluarga yang menunggu.


Perjalanan pulang kali ini, membuat saya melihat banyak. Membuka mata hati saya, membuka telinga saya lebar-lebar, bahwa ada tanggung jawab ketika “tanah panggil pulang” ia seperti mengajak untuk berkolaborasi dengannya. Melakukan sesuatu.

Saya banyak mengobrol. Saya banyak menggali informasi tentang Maluku, dan saya masih melihat semangat itu ada. Saya masih merasakan kegairahan yang membara dari mata anak-anak muda. Bahwa tanah ini tidak mati. Tanah ini sedang menggali, menggali kembali akar, untuk menancapkan kuku semangat juang dalam-dalam.

Ketika diundang untuk membaca puisi pada #TrotoArt9 sebuah acaraMusik Pinggir Jalan, ketika semua seniman, kawula muda turun ke jalan untuk memamerkan karya mereka. Saya sendiri terkagum-kagum dengan semangat militan yang teman-teman miliki.

Bahwa setiap orang berjuang di dalam keterbatasan. Dan itu yang membuat mereka kuat. 

Everything that kills me makes me feel alive. Itu adalah ungkapan sebuah lirik lagu. Belum hidup jika belum merasa mati. Dan saat ini yang saya rasakan adalah: setiap anak-anak muda di kota ini sedang tumbuh. Mereka seperti tunas-tunas muda yang sedang menancapkan akar-akarnya di tanah.


Perjalanan pulang kali ini, membuat saya merenung kembali bahwa: sudahkah saya berjuang untuk tanah Maluku, tampa putus pusar saya? 

(*salah satu postingan lama saya di www.perempuansore.blogspot.com pada 7 January 2014)

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan.
Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”.



“Mokolo adalah kata sifat yang menggambarkan konteks per…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…