Skip to main content

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Terakhir)





Selesai mengunjungi Telaga Tenggelam, Gunung Tinggi, kami lalu menempuh perjalanan sekitar 45 menit lagi untuk menuju ke Pulau Osi. Tetapi sebelum sampai ke Pulau Osi, kami menyempatkan diri untuk makan siang sebentar.

Menuju ke Pulau Osi, kamu akan menemukan jalanan berpasir sejauh dua km, pastikan untuk menggunakan helm yang proper supaya kamu terhindar dari debu-debu yang akan masuk ke dalam mata dan mulut.


Sampai di pintu masuk, per orang dihitung Rp. 5000. Ketika masuk kamu akan menemukan jembatan pertama yang menghubungkan antara dataran yang satu dengan dataran selanjutnya. Jembatan itu dibangun dengan maksud untuk membuat pengunjung lebih mudah lagi untuk berjalan kaki maupun menaiki motor hingga akan sampai ke ujung pulaunya.



Jembatan memasuki pulau osi


Cottage yang ada di pulau osi



Ketika sampai di Pulau Osi, kamu akan menemukan tanaman bakau sepanjang pulau. Tenang saja, air sepanjang pulau termasuk dangkal, kamu bisa turun ke bawah dan bermain-main di laut tanpa harus bisa berenang.


Jembatan lainnya setelah meninggalkan sebuah kampung yang ada di pulau osi


Ada beberapa cottage yang disediakan di Pulau Osi, juga penginapan. Kamu bisa ajak teman-temanmu untuk datang dan menginap. Pulau Osi mungkin sudah ditakdirkan sebagai tempat sweet escape!


Terima kasih yuli toisuta, aprino berhitu, ierfundy latuconsina, akbar dan aldy untuk perjalanan random yang menyenangkan!

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata