Skip to main content

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Pertama)




Perjalanan lainnya yang bisa dilakukan ketika sampai di Pulau Ambon adalah pergi ke Pulau Osi. Pulau Osi terletak di daerah Seram Bagian Barat, Maluku. Pulau Seram adalah pulau terbesar di daerah Maluku dan masih banyak lahan yang kosong di daerah ini, dengan kata lain pembangunan belum terlalu berjalan dengan baik di daerah ini.

Kali ini saya dan teman-teman secara random jalan-jalan ke daerah Seram Bagian Barat. Pagi sekitar pukul 5.30 kami berangkat dari Kota Ambon, dengan janjian bertemu di daerah pom bensin Batu Merah, kami berpasang-pasangan dengan motor, kali itu kami menggunakan tiga motor. Alasannya kenapa kami memilih motor adalah, supaya lebih praktis, dan bisa sekaligus pulang-pergi.

Jika pergi ke Pulau Seram, maka harus pergi dulu ke Pelabuhan Hunimua, Liang dan menyeberang dari sana. Ketika melewati daerah Pantai Suli, kami sempat berhenti sebentar dan menikmati sunrise yang ada. Terusterang ini adalah pemandangan yang sangat mahal, karena jarang-jarang saya bisa menikmati sunrise ketika sedang berada di Bandung. Pemandangan sunrise pagi ini benar-benar menyegarkan mata sekaligus jiwa, saya menganggapnya sebagai pertanda baik yang mengawali perjalanan kita ke Pulau Osi.

Bertemu sunrise di daerah Pantai Suli Bawah, Ambon, Maluku

Sebelum sampai di Liang, kami sempatkan diri untuk membeli sarapan di daerah Tulehu, negeri yang akhirnya ramai dibicarakan karena film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Negeri Tulehu pagi ini sangat damai, tampak semburat matahari pagi, mulai muncul di antara sotoh-sotoh rumah, mama mama yang sudah bangun mulai pergi ke luar  mengantri nasi kuning untuk membeli sarapan pagi bagi keluarga mereka. Saya juga menemukan anak kucing yang jatuh ke dalam selokan dan mengeong ngeong di pagi itu.

Perjalanan kami kemudian dilanjutkan ke Pelabuhan Hunimua, Negeri Liang. Kendaraan yang mengantri di pagi itu tidaklah banyak. Nampak antrian orang yang hendak menyeberang ke Pulau Seram  juga tidaklah ramai. Karena kami menggunakan motor, kami membayar seharga motor dengan boncengannya yaitu Rp.56.000.

Perjalanan di dalam Ferry sangatlah menyenangkan, ada kamar mandi yang bersih. Di dalam Ferry juga terdapat kafe kecil untuk membeli kopi dan sarapan-sarapan kecil lainnya. Penyeberangan menuju Pulau Seram hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Kami pun sampai di Pelabuhan Waipirit, Kairatu, Seram.

Tim ekspedisi "kecil kecilan" kami

Salah satu ruas jalan di daerah seram bagian barat

Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan motor, melewati jalan-jalan yang sudah diaspal dengan baik, tampak langit biru jernih di atas kepala, dengan perpaduan pohon-pohon hijau di sepanjang perjalanan kami. Kami lalu sampai di derah Piru, kata Yuli, teman dari Baronda Maluku yang waktu itu bersama-sama dengan kami, ia menganjurkan untuk sebelum kami ke Pulau Osi, ada baiknya kami mampir dahulu untuk melihat Telaga Tenggelam. Telaga Tenggelam memang berbentuk Telaga dengan air yang bening. Ketika kami berhenti untuk sekedar membeli minuman dingin di sebuah warung yang ada di pinggir jalan, kami sempat mengobrol dengan penduduk setempat tentang Telaga Tenggelam. Ia lalu bercerita bahwa, Telaga Tenggelam itu dulunya adalah sebuah desa yang akhirnya sengaja “ditenggelamkan”  oleh Tete Nene Moyang (Leluhur) alasan ditenggelamkan karena katanya penduduk sekitar itu melakukan kesalahan, konon begitu ya.

Telaga Tenggelam

Kami hanya mengangguk angguk ketika didongengkan. Selain itu ternyata Tete Nene Moyang (leluhur) di negeri setempat katanya berbentuk buaya, yang biasanya juga terlihat sedang berenang-renang di sekitar Telaga Tenggelam. Beruntung sekali, saya tidak bertemu dengannya, padahal ketika mengujungi Telaga Tenggelam, saya memang masuk dan berjalan-jalan di sekitar Telaga, untuk sekadar merendam kaki.

Saya sendiri takut membayangkan jika saya bertemu langsung dengan seekor buaya di dalam Telaga Tenggelam itu, hm.

(Bagian dua, dilanjutkan nanti ya.)

Comments

Popular posts from this blog

Kegelisahan: musisi dan penikmat musik

Saya pernah menulis sebuah lirik berjudul “Tetanggaku Pergi ke Kota” yang kemudian dinyanyikan oleh Tetangga Pak Gesang, duo musisi indie yang berasal dari Bandung. Mereka adalah Arum Dayu dan Meicy Sitorus, yang aslinya adalah penggiat foto dan dua teman baik saya.  Sampai saat ini, album mereka sementara dikerjakan secara gerilya. Memang belum ada hasil yang bisa didengarkan secara fisik, baik itu berupa CD, kaset, maupun vinyl yang sedang menjamur akhir-akhir ini. Tetapi lagu-lagu mereka dapat didengarkan di soundcloud.  Produktivitas meng-aransemen lagu-lagu lama dan mencipta lagu-lagu baru, kemudian diakui oleh beberapa musisi besar seperti Slank dan Efek Rumah Kaca. Yang pada akhirnya mengajak mereka untuk berkolaborasi di satu panggung.  Yang ingin saya bahas di sini adalah bukan secara spesifik menyangkut Tetangga Pak Gesang tetapi sepenggal lirik yang saya tulis di dalam lagu Tetanggaku Pergi ke Kota:  kita tak perlu ke kota, kita kan membuat kot

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri. "Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget , karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest ." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam. Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung. "Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi

Puisi Memberikan Jalan Untuk Menyembuhkan Diri

“Puisi mampu membantu beta memberikan jalan untuk menyembuhkan diri sendiri sebab manusia pada dasarnya ‘berpenyakitan’ betul bukan? Puisi benar-benar jadi obat di kala itu,” ujar Chalvin. Chalvin Papilaya satu dari sekian banyak anak muda yang mencintai puisi, dan punya semacam keyakinan kecil, puisi dapat menyembuhkan. Pada tahun 2016, ia terpilih sebagai salah seorang “emerging writer” yang berangkat ke Makassar International Writers Festival. Bersama beberapa kawan lainnya yang juga berasal dari timur Indonesia, mereka menerbitkan sajak dan cerita pendek, dengan tajuk “Dari Timur 2” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Chalvin katakan, “Puisi adalah pergulatan kecemasan terhadap tanda-tanda yang ada di luar diri penyair maupun di dalam dirinya sendiri—puisi bukanlah sekadar susunan kata-kata belaka.” Ungkapan ini, kemudian mengantar Chalvin untuk menerbitkan buku puisinya sendiri pada tahun 2019, berjudul “Mokolo”. “Mokolo adalah kata