Skip to main content

Grenata Louhenapessy Berbagi Soal Kecintaannya Terhadap Maluku









Ketika mengerjakan Molucca Project, saya merasakan bahwa ada pergerakan besar yang saat ini sedang dilakukan juga oleh beberapa anak muda Maluku, hal inilah yang akhirnya membuat saya sadar bahwa, setiap anak muda Maluku, dimanapun mereka berada tetap saling terkoneksi: yaitu ketika kita mau melakukan sesuatu untuk Maluku, ketika kita tetap mau memberikan Kontribusi kepada Maluku, tidak peduli dimanapun kita berada.

Beberapa waktu yang lalu, saya dihubungi oleh Journaal Project, sebuah project berbentuk free magazine yang saat ini beredar di kota Ambon karena salah satu konten yang akan mereka bahas di edisi dua mereka adalah tentang blog.

Saya lalu mengobrol dengan Grenata Louhenapessy, editor in chief Journaal yang memulai project ini hanya karena passion dan kecintaannya teradap Maluku. Ia mengatakan bahwa “Ambon selalu jadi salah satu passion terbesar aku. I’m so passionate about this city. Mungkin karena aku tumbuh disitu dan secara tidak langsung kota itu yang “jadiin” aku kayak sekarang, jadi aku selalu pingin  bisa kontribusiin sesuatu dan ngasih yang terbaik buat kota itu.”

Garis bawahi kalimat I’m so passionate about this city, saya sendiri juga setuju dengan hal ini. Rasanya jika setiap anak muda Maluku memang memiliki kecintaan yang sama, tidak peduli dimanapun ia berada, ia tetap bisa melakukan sesuatu kepada Maluku.

Ia menambahkan soal passion dengan mengatakan, “Punya passion terhadap sesuatu yang kita kerjakan pasti memberikan banyak benefit, kita lebih termotivasi dalam mengerjakan sesuatu, kerjaan terasa lebih ringan karena kita menikmatinya,  banyak ide – ide baru yang muncul karena kita sendiri tidak terbeban dan sangat passionate sama apa yang kita kerjakan dll. Namun, kita nggak bisa hanya mengandalkan passion semata untuk mencapai hasil yang maksimal. Kita perlu disiplin. Disiplin-lah yang bisa memelihara passion kita sehingga dapat menghasilkan kesuksesan.”

Journaal Project ini sendiri ide awalnya karena keinginan untuk berkontribusi sesuatu kepada Ambon (Maluku) yang memang memiliki banyak sekali potensi yang belum dikelola secara maksimal. Inisiatif awal berasal dari keinginan Grimaldy (kakak Grenata-Red), yang menginginkan adanya sebuah media komunikasi, yang bisa menjembatani antara Western Indonesia dengan Eastern Indonesia, khususnya tentang tren-tren yang sedang berkembang. Dengan harapan pembaca tidak hanya mendapatkan informasi, melainkan juga terinspirasi untuk melakukan sesuatu.

Ternyata ketika memulai Journaal Project ini, ada tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah ada beberapa pihak yang agak meragukan ide ini, tetapi justru itulah yang menurutnya menjadi sebuah penyemangat. “Itulah penyemangat buat kami untuk bisa merealisasikan ide ini, untuk terus berusaha maksimal menyempurnakan majalah ini dan terus punya kerendahan hati untuk belajar sehingga bisa memberikan yang terbaik. Puji Tuhan, edisi pertama disambut luar biasa oleh masyarakat” ia juga menambahkan.

Ketika ditanya mengenai pendapatnya soal "membangun Maluku" "membangun kampung halaman" ia lalu bercerita, “Aku percaya pembangunan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua. Sama halnya dengan membangun Maluku. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, atau masyarakat yang berada disana, melainkan juga tanggung jawab kita yang mungkin saat ini tidak lagi tinggal disana. Kesempatan untuk membangun Maluku harus dilihat sebagai peluang emas untuk berkontribusi membangun kampung halaman, sebelum menyesal karena tidak pernah melakukan apa-apa. Bangga sebagai orang Maluku itu penting, tapi kontribusi kecil lebih diperlukan. Cara paling sederhana adalah dengan menyebarkan cerita postif tentang Maluku kemanapun kita pergi.”

Dengan percaya diri, ia juga meyakinkan bahwa pada saat ini sudah mulai kelihatan anak muda Maluku yang cerdas dan percaya diri, dan banyak juga yang sudah mulai berekspresi di bidang-bidang seni dan di bidang lainnya. Sudah banyak prestasi juga yang mereka, asal tidak pernah berhenti belajar, ujarnya yang setiap kali pulang ke Ambon selalu menyempatkan diri untuk main ke pantai Liang dan Natsepa.

Semoga kita bisa belajar sesuatu dari Grenata, sebagai anak muda Maluku belum terlambat untuk memberikan kontribusi sekecil apapun. Kita tidak akan pernah tahu bahwa sekecil apapun kontribusi yang kita lakukan itu bisa menginspirasi orang lain untuk juga melakukan sesuatu. Ketika ditanya soal inspirasi terbesar di dalam hidupnya, ia menjawab dengan lantang “Papa. Aku belajar banyak hal dari beliau, terutama mengenai kedisiplinan, kerja keras, kerendahan hati, dan ketulusan. Bagaimana dalam hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi harus memikirkan orang lain. Harus memiliki visi dalam hidup sehingga setiap detik yang kita jalanin gak jadi sia-sia melainkan ada tujuannya. Mengahargai semua yang Tuhan berikan, dan memaksimalkan potensi yang kita punya. Dan yang selalu aku ingat, “Tidak semua yang manis itu baik, dan semua yang pahit itu jelek.”



Sukses terus untuk Journaal Project ya Gre! Info lebih lengkap tentang Journaal silakan follow instagram di @journaalproject ~




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…