Skip to main content

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak





Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 

Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 

Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 

Di jalan Ay. Patty juga ada perpustakaan daerah. Saya sempat mampir, tapi sayang sekali tidak sempat mengambil gambar. Ada beberapa buku yang menarik. Tetapi rasanya perpustakaan daerah, memang harus dipelihara dengan lebih baik lagi, semoga ini bisa menjadi catatan kepada pemerintah. 

Jalan Ay. Patty, Kota Ambon

Di samping jalan Ay. Patty, kita memasuki kawasan pasar kuliner malam di daerah Ambon Plaza, mall pertama yang ada di kota Ambon. Tetapi silakan singgah ke Kafe Barista. Tradisi ngopi di Ambon memang sudah lama ada. Tetapi kini kafe-kafe dengan design minimalis pun menjamur. Tapi yang menarik menu khas Ambon selalu ada di dalamnya. 

Kafe Barista

Jangan kaget ketika suatu hari kamu nongkrong di salah satu Rumah Kopi atau Kafe dan mendapati obrolan politik hangat di sana sini. Saya sendiri lebih tertarik nongkrong di Kafe, minum kopi, melamun, dan mengamati wajah wajah orang yang lalu lalang. 


Setelah jalan Ay. Patty, saya akan mengajak kamu ke pelabuhan speed boat yang ada di kawasan Pasar Mardika, Kota Ambon. Naik Speed Boat merupakan salah satu alternatif transportasi ke Bandara Pattimura. Karena lebih murah dan lebih cepat. 

Menarik karena harga sekali jalan, hanya membayar 5000 rupiah. Dengan jangka waktu hanya 15 menit, kita akan sampai di Pelabuhan Rumah Tiga. Sisanya, perjalanan ke Bandara, bisa dilanjutkan dengan ojek maupun angkutan umum. 


Ini adalah pemandangan rumah-rumah di sekitar pelabuhan Speed Boat, kawasan Pasar Mardika, Kota Ambon. Jalan kaki di sekitar kawasan ini juga masih sangat menyenangkan. 


Spot favorit lainnya yang ada di Kota Ambon, Toko Roti dan Es Krim Pemuda. Selesai dari Jalan Ay. Patty, Kawasan Pasar Mardika, silakan mampir ke sini. Terletak di Jalan Dr. Setiabudi, silakan menikmati sajian es yang nikmat. Ada yang seleranya adalah Es Pisang Ijo, sedangkan Es Kacang Merah selalu menjadi pilihan favorit saya. 

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…