Skip to main content

Beberapa Spot Favorit di Pusat Kota Ambon





Jika kita jalan-jalan ke kota Ambon, sejujurnya kita bisa melihat banyak tempat tempat menarik. Mungkin mereka adalah tempat yang sederhana, hanya selewat saja, dan selama ini tidak pernah menjadi tujuan, siapa tahu jika kembali ke kota Ambon lagi nantinya, kamu bisa pergi ke sana. 


Yang satu ini bisa jadi sudah sering dikunjungi. Tentu saja, lapangan Merdeka atau sebutan lainnya yaitu Pattimura Park, merupakan salah satu spot turistik di kota Ambon. Lapangan Merdeka biasanya berfungsi sebagai alun-alun, atau tempat berkumpulnya masyarakat kota Ambon jika memang ada acara-acara tertentu. 


Karena bekas konflik, maka jarang sekali kita mendapatkan bangunan bangunan tua yang masih terpelihara dengan baik, yang satu ini adalah salah satu yang tersisa. Di sekitar tugu trikora, dan di dekat gereja Silo, kamu akan menemukan bangunan menjulang: Rumah Kopi Trikora. Saya sendiri masih belum menyelidiki lebih dalam sebetulnya bangunan ini dulunya apa. 


Masjid Jami, menyenangkan untuk dikunjungi. Bersebelahan dengan Masjid Al-Fattah di pusat kota Ambon. Dari bangunan, sangat vintage. Masjid ini dibangun pada 1860 Masehi. 


Pelabuhan Yos Sudarso, pelabuhan besar yang ada di kota Ambon. Kenapa jalan-jalan ke Pelabuhan akan menyenangkan, karena kita bisa menikmati aktivitas lain: kapal-kapal barang yang sedang menaik-dan-menurunkan barang, anak-anak kecil yang mencari uang dengan menjual jasa mengangkut barang yang ada di sekitar pelabuhan, penumpang yang sedang menunggu jadwal untuk berlayar, atau sekedar iseng naik ke atas kapal yang sedang bersandar, hanya untuk menikmati senja di sekitar Pelabuhan. Ternyata banyak aktivitas yang menyenangkan. 


Pasar Mardika selalu menarik bagi saya. Karena melihat interaksi pembeli dan penjual, melihat ikan-ikan dan sayur-sayuran segar, menikmati lautan biru di sekitar Teluk Ambon, atau sekedar menikmati Mama berkebaya Ambon yang sedang menawar nenas. Pasar adalah aktivitas yang paling nyata kita bisa melihat kesejahteraan sebuah kota. 

Saya masih punya banyak cerita menarik lainnya tentang spot favorit saya di sekitar kota Ambon, tunggu ya!

Comments

Popular posts from this blog

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

Beberapa Spot Favorit Lainnya di Pusat Kota Ambon: Silakan Jalan Kaki Atau Naik Becak

Kota Ambon dengan jalan-jalan utamanya, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Masih ramah, mengingat pusat kotanya yang tidak terlalu luas. Atau alternatif lainnya adalah menggunakan becak. Becak di Kota Ambon, relatif masih sangat terjangkau. Dari harga 5000 rupiah hingga 20.000 ribu rupiah. Semuanya kembali kepada jarak tempuh. 
Jalan utama Ay. Patty adalah salah satu jalan utama yang asik untuk dipakai jalan kaki dari ujung satu ke ujung lainnya. Berbagai toko berderet di sepanjang jalan ini. Ada sebuah Kafe bernama D'Street yang menjadi alternatif tempat nongkrong sambil ber-wifi-an dan minum kopi sore. 
Beberapa toko di jalan Ay. Patty ini memang terbakar ketika konflik Maluku yang lalu, tetapi kini sudah dibangun kembali dan ditata dengan apik. Ingatan saya kembali ke tahun 90-an ketika itu Bakso di Puskud (salah satu bangunan yang ada di Jl. Ay. Patty, kini bentuk bangunannya masih ada, tetapi sudah beralih fungsi) masih menjadi salah satu yang favorit. 
Di jalan Ay. Patty j…