Skip to main content

Posts

Sebuah Perenungan dari Kota Musik: 'The City of Batang Kayu'

Recent posts

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

#somegoodvibes: Penghapus Sunyi Bersama Olive & Joe

foto oleh Meno Latuny, lokasi di Kafe Cindy's, Salatiga.


Penghapus Sunyi Bersama Olive & Joe akan dirayakan, Rabu, 7 Maret 2018 di halaman belakang Kafe Cindy's, Salatiga, yang hijau dan semilir. Olive & Joe hanya akan mengundang teman-teman terdekat mereka untuk menghadiri perayaan ini, dan mereka berdua akan bernyanyi dengan intim sekaligus berbagi kisah mereka. Simak wawancara Molucca Project bersama Olive & Joe jelang acara di bawah ini:
Hai Olive & Joe, bagaimana sih rasanya jelang konser kecil Penghapus Sunyi?
Joe: Pengalaman pertama kami mengadakan konser ini, jadi ada deg-degan sedikit, bahagia juga sedikit, jadi rasanya netral. Hehehe.
Olive: Sama sih, tapi lebih ke deg-degan, soalnya pengalaman pertama, dan ini genre yang berbeda dari apa yang biasanya saya nyanyikan, jadi cukup menantang juga sih. 
Rencananya ada berapa lagu sih yang akan dibawakan di Penghapus Sunyi ini?
Joe: Rencananya kami bawakan tujuh lagu dan semuanya diciptakan sendiri. 
Terus, dari …

Salatiga dan Penghapus Sunyi: Segera!

Penghapus Sunyi adalah sebuah kesederhanaan yang mampir, menghantui, dan  menjadi kawan bagi malam-malammu yang sepi. Ia hadir melalui petikan  gitar dan alunan nada-nada yang mengalir renyah dari duo kekasih asal  Maluku, Olivia Isabela Tuhumena dan Johannes Latuny. Pada suatu petang,  ketika pendar-pendar cahaya matahari berjatuhan di sela dedaunan,  Johannes yang akrab disapa Joe bercerita, "Lagu ini saya tulis ketika  sedang long distance relationship. Coba bayangkan saja, kita kehilangan  seseorang yang bisa diajak ngomong apa saja, orang yang paling nyambung  di dalam kehidupan kita." Ia bercerita dengan binar di matanya yang tak  mampu ia sembunyikan. Sementara Olive, kekasihnya, duduk di sampingnya  dengan senyum yang tak kalah merekah.
Kiprah Joe dan Olive dalam bermusik memang sudah tidak diragukan lagi.  Hingga kini mereka masih tergabung dalam Kurang Kerjaan Project, sebuah  Band yang dibentuk di Salatiga bersama empat kawan yang lain. Bersama  Kurang Kerjaan Proj…

Konspirasi Puisi #3: Fashion dan Warna Warni Kota

foto dok. marthen reasoa
Pukul 20.45 WIT Konspirasi Puisi #3 dengan tajuk Fashion dan Warna Warni Kota dibuka oleh MC Arie Rumihin. Ruang lantai dua Kafe Kayu Manis penuh sesak. Ada banyak anak muda yang hadir. Srihandayani Latukau memulai dengan puisi yang berjudul Warna-Warni Kota. Dalam puisinya, Sri menggambarkan warna-warni kota Ambon saat ini yang berbau politis. Setyawan Samad, penyair asal Banda Neira membacakan tiga buah puisi Gus Mus secara berturut-turut. David Leimena membacakan puisi Chairil Anwar. Kemudian ada satu pembaca baru, Echa Afrikana yang tampil cukup memukau telinga pendengar. Lagi-lagi puisi yang dibawakan adalah warna kota Ambon saat ini. 

Marvin Laurens menampilkan sebuah puisi manis. Fashion anak muda menjadi pengalaman yang dia tuangkan dalam puisinya. Ada juga Satila Novianti dan Rengga Justitia Lilipaly, dua anak perempuan muda yang mencintai dan memandang puisi sebagai karya untuk menuangkan sekaligus meneriakkan ide dan keadaan sekitar. Tidak hanya pemba…

Michael Pelupessy: "beta harus serius di dunia nyanyi, kalau seng serius seng bisa hidup."

foto oleh @sjzndrcz


Michael Pelupessy, vokalis pentolan dari SOFTEAST Band asal Maluku, yang kemarin sempat meramaikan ajang kompetisi Indonesian Idol di Jakarta. Namun sayang Michael dengan warna suara yang cukup unik tersebut tidak berhasil menuntaskan perjuangan di ajang kompetisi tersebut dan harus pulang. Tapi kiprah Michael tidak hanya sampai di situ, sekembalinya ia ke Ambon, ia sedang mempersiapkan single pertamanya dan jika diberikan kemudahan oleh semesta, sebuah album akan dirampungkannya. Berikut adalah percakapan singkat Molucca Project dengan Michael Pelupessy, silakan disimak ya:
Ceritakan bagaimana sampai bisa dapat silver ticket Indonesian Idol ke Jakarta?
Awalnya bulan juli 2017, saya dihubungi pihak Fremantle untuk ikut special audition Indonesian Idol. Sekitar 2-3 bulan kemudian saya dihubungi lagi untuk ikut audisi kota Ambon dengan juri Kak Rayen Pono. Setelah nyanyi di depan Kak Rayen, saya lolos audisi di Ambon dan dikasih silver tiket untuk berangkat ke Jakarta.
B…

Ambon dan Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi

sebelum workshop, foto oleh: erzhal umamit





Pada Sabtu 6 Januari 2018, di bawah rindang pepohonan Pattimura Park, kawan-kawan dari Bengkel Sastra Maluku mengadakan workshop: Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Menulis Puisi. Teknis dari pertemuan ini adalah kami hendak berbagi pengalaman menulis sekaligus melakukan eksperimen bersama peserta untuk memaknai hal-hal yang sifatnya keseharian dan bagaimana mencipta sesuatu dari sana. Selain berbagi penglaman, kawan-kawan juga mengajak peserta untuk membuat latihan-latihan kecil menulis puisi secara spontan, tentu dari pengalaman yang sudah dibagi.
Marthen Reasoa, Ketua Bengkel Sastra Maluku menjadi pemateri perdana dalam pelatihan itu. Marthen berbagi soal puisi kolaborasi yang sudah lama ia lakukan dengan Ecko Poceratu. Marthen tidak segan untuk berbagi mengenai tema "panas" yang cenderung tabu dibicarakan di masyarakat, salah satu tema yang kerap digarapnya dalam puisi bersama Ecko Poceratu.
Workshop ini dilanjutkan oleh Ecko Poceratu. …