Thursday, January 19, 2017

19 Things I Love About Ambon Manise





Ambon Manise masih seksi. Bukan karena saya lahir dan besar di kota ini saja, tetapi karena saya memilih untuk mencintai kota ini dengan segala kelebihan pun kekurangannya. 

Bukan berarti melupakan yang pahit begitu saja, namun izinkan saya move on dengan mengumpulkan ingatan-ingatan manis di kota Ambon Manise. Karena saya percaya ini adalah satu cara dari banyaknya cara untuk mencintai kota Ambon Manise lebih lagi. Pada tanggal 19 Januari ini, sebagaimana banyak masyarakat mengingat tanggal sakral ini sebagai pecahnya kerusuhan di Ambon. Saya mau mengingat tanggal ini dengan cara lain. Yaitu cara-cara kecil, sederhana, dan manis, tentang Ambon Manise yang masih magis. 

Maka inilah 19 Things I Love About Ambon Manise (19 Hal Yang Paling Dicintai dari Ambon Manise) selamat menikmati.

1. Langit biru yang tidak basa-basi 


Kota ini memang diberkahi dengan langit biru yang tidak basa-basi. Coba sekali-kali sempatkan jalan kaki dan nikmati kesenangan di kota ini dengan memandangi langit biru. Semoga hati dan pikiranmu luas dan jernih seperti langit biru!

2. Mama papalele dengan kebaya manis


Suatu pengalaman mewah jika bertemu dengan Mama papalele. Papalele memiliki arti membawa atau memikul barang dagangan berkeliling. Ada kebanggaan sekaligus kekuatan ketika melihat Mama papalele.

3. Rumah warna-warni seperti gula-gula

foto oleh weslly johannes.

Saya selalu kagum dengan cat yang dipilih untuk memupuri rumah. Kadang warna-warni yang dipilih seperti rumah-rumah yang ada di dongeng.

4. The best kue cina in town! 


Jika di Jogjakarta ada bakpia. Maka di kota Ambon ada kue cina. Lapisan luarnya hampir mirip bakpia, hanya lebih kokoh dengan isi kacang hijau dan kacang hitam.

5. Jaring ikan mirip kelambu


Tak hanya berfungsi untuk menjaring ikan tetapi juga bisa berfungsi sebagai kelambu untuk bermain rumah-rumah kecil.

6. Workshop Coffee

foto oleh aldy patrick.

Bukan kedai kopi biasa. Workshop Coffee, penuh dengan acara-acara hits. Dan jadi satu tempat bertukar cerita yang menyenangkan.

7. Pantai dengan foto bagus tanpa edit


Pemandangan dengan gradasi seperti ini akan dengan mudah kamu temukan ketika tamasya di pantai manapun. Jika tidak percaya, silakan buktikan sendiri. 

8. My everyday view (from home)


Tinggal di atas gunung, sunyi, dan menawan. Ini adalah pemandangan wajib setiap tahun ketika merayakan Natal di rumah.

9. Bangunan ruko jadul


Melihat bangunan ruko jadul seperti ini selalu nostalgik. Apalagi buat kawan-kawan yang besar di Ambon pada tahun 90-an. 

10. Seragam baris 



Muda mudi berseragam seperti pada gambar di atas akan mudah ditemukan ketika hari ulang tahun kota Ambon. Mereka siap meramaikan dengan kegiatan baris atau pawai di jalan. 

11. Katreji di jalan



Melihat katreji (tarian tradisional Maluku) biasanya di pesta penyambutan pemerintahan atau pesta rakyat yang lebih formal. Tapi kini kamu dapat menyaksikannya di tengah jalan.

12. Matahari tenggelam dan pohon terang



It's kinda my favourite thing about this city!

13. Perempatan gereja silo



Entahlah tapi bagian ini selalu memukau bagi saya. Barangkali karena perpaduan bangunan baru (gereja silo) dan bangunan lama, bangunan dengan jendela kotak-kotak (kopi sariwangi). Serasa di Manhattan.

14. Jalan AY. Patty


Saya suka jalan kaki di sini, lurus-lurus ke Lapangan Merdeka. Saya suka trotoar-nya yang lebar-lebar.

15. Santai Beach


Menyukai warna-warni di pantai ini.

16. Pofertjes dan coffee


Mereka tidak selamanya pasangan yang menarik. Tetapi mereka selalu bikin rindu. Betul? 

17. #trotoART

foto dari twitter.

Pertunjukan seni di atas trotoar: ketika musisi, pemain teater, penyanyi, pembaca puisi, pelukis melebur menjadi satu. Karena seni adalah persahabatan. Oh, hanya di acara yang satu ini. 

18. Cakrawala



Ambon Manise: semoga hidupmu penuh kesetiaan, kebaikan hati, dan hidup baku sayang.

19. Bintang dimana-mana



foto oleh petra ayowembun.

Hanya di kota ini kamu dapat temukan Beer dimana-mana. Saya tidak suka pemabuk. Saya lebih suka pemabuk cinta. 

Selamat merayakan tanggal 19 Januari dengan 19 Hal Yang Paling Dicintai dari Ambon Manise. Sesungguhnya Ambon Manise hari ini jauh lebih kuat dari hari-hari kemarin!


salam sayang,

redaksi. 








Sunday, January 15, 2017

Ecko Saputra Pocerato : Maluku itu Sarang Pemimpi





ecko membaca puisi di acara tempat paling liar di ambon akhir desember kemarin.





Ecko Saputra Pocerato, akrab disapa Ecko adalah laki-laki mungil dengan nyali besar. Kamu dapat menemukan ia di berbagai panggung puisi. Dengan sigap ia akan membacakan puisi dan membawamu untuk memasuki relung-relung terdalam manusia yang mungkin selama ini tak pernah kamu pahami.

Baru-baru ini ia membuka rumah baca yang berlokasi di rumahnya, daerah Karang Panjang Ambon. Dengan menyediakan buku-buku, Ecko sengaja memberikan ruang pengetahuan kepada siapapun yang hendak mampir. Ecko dengan semangat menulisnya yang tidak pernah redup, sudah menghasilkan banyak sekali puisi. Saya berkesempatan untuk membawakan Puisi Sopi yang ia karang pada pertemuan we go hangout yang diadakan oleh Wego Indonesia di Bandung beberapa tahun lalu. Ecko pun sudah merambah dunia penulisan novel. Hal ini pun dibuktikannya dengan berani menerbitkan debut novel perdananya bertajuk Pelangi Biru secara indie. Mari simak ide dan inspirasi lainnya dari wawancara Molucca Project dengan Ecko Saputra Poceratu. 


Apa sih sebenarnya yang jadi passion kamu?

Passion saya adalah menulis. Menulis kehidupan. Saya merasa begitu asing jika tidak menulis dalam sehari. Kehidupan saya adalah menulis "kehidupan".

Menurut kamu penting nggak sih jika anak muda harus punya passion?

Anak muda harus punya passion. Itu penting sekali untuk membawa kemana seorang anak muda berjalan dan berlayar. Andai tak punya passion, seseorang muda yang sebenarnya hebat malah menjadi angin musiman. Passion menjadi bagian dari pekerjaan dan sangat menentukan masa depan. Jika kita mengetahui passion kita dan mengerjakannya dengan cinta, maka tak ada lagi yang kurang. Saya teringat satu kalimat: "Pilihlah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah merasa harus bekerja seumur hidupmu".

Apakah profesi kamu sekarang? dan apakah profesi itu mengubah hidup kamu?

Profesi saya saat ini adalah penyair dan penulis. Ya, profesi ini sangat berpengaruh dalam perubahan kehidupan saya sejak pertama kali memulainya. Saya merasa menemukan dunia yang sebenarnya dalam sastra. Pola pikir, sikap, hati, semua terbuka. Profesi ini membawa saya ke jalanan. Ke lorong lorong sempit tempat kehidupan dijalani sebenar-benarnya tanpa drama. Mata saya menjadi tajam melihat bahwa hati banyak orang perlu dilimar. Bagi saya, dunia yang luas adalah cara berpikir. Dan profesi ini telah mempengaruhi cara berpikir saya hingga detik ini.

 Adakah hal lain lagi yang ingin kamu capai dalam beberapa tahun kedepan?

Saya ingin membuat banyak karya yang bermanfaat bagi banyak orang di Maluku. Saya ingin menulis buku dan menerbitkannya untuk banyak orang. Saya ingin menyampaikan banyak hal kepada masyarakat Maluku.

Apa pendapat kamu tentang "membangun Maluku" atau "membangun kampung halaman"?

Mari bangun Maluku. Bangun dengan passion yang kita punya. Dengan jalan yang berbeda. Membangun Maluku adalah dengan karya bukan dengan senapan atau politik lagi. Berkarya saja terus setiap hari dan kita tidak akan mati. Satu karya adalah bukti bahwa kita sedang membangun Maluku dengan gaya kita dengan passion kita.

Bagaimana pendapat kamu tentang anak muda Maluku pada saat ini?

Sebagian besar anak Maluku masih belum menyadari bahwa dirinya Maluku. Masih banyak anak Muluku bicara Maluku tapi tidak kenal Maluku tidak cinta Maluku. Sebagian besar tidak berkarya dan menghabiskan waktu waktu untuk memenuhi kebutuhan gengsi dan lifestyle. Semuanya tentang pengeluaran materi, pemborosan waktu, dan tidak memberikan kontribusi untuk Maluku. Tetapi saya bersyukur, sebagian kecil anak Maluku telah menunjukkan apa itu Maluku dengan menulis puisi, lagu lagu, bermusik, teater, ekonomi kreatif, dll. Mereka mereka ini telah memberi kontribusi untuk Maluku dan perlu diteladani. Semakin banyak yang berkarya semakin banyak yang bangun dari tidur.

Tempat favorit kamu kalau sedang liburan ke Maluku (berada di kota Ambon) dan kenapa?

Saya suka di Pasar Mardika. Sebab, disitulah kehidupan menjadi lebih nyata. Semua karakter, jabatan, persungutan, kebutuhan saling berpakaian tanpa memikir perbedaan. Saya tidak ingin hidup lepas dari realita. Keindahan itu bagi saya adalah kebersamaan di tempat yang paling banyak perbedaannya.

Siapa inspirasi terbesar buat kamu?

Inspirasi saya adalah Yesus. Seniman kehidupan. Karya-karyanya adalah seni paling realistis.

 Apa harapan kamu untuk Maluku?

Semoga setiap generasi di Maluku menjadi Maluku dengan bekarya sebaik-baiknya pada jalan masing-masing.




Saturday, January 14, 2017

Oleh-Oleh Perjalanan Natal Dari Ambon





tiba di ambon dan menikmati langit senja dari depan rumah saya. 

Natal di Ambon selalu heboh setiap tahunnya. Jalan-jalan sudah penuh dengan hiasan pohon terang sejak bulan November. Di jalan-jalan tertentu berbagai pohon pun sudah dihias dengan lampu kelap-kelip. Ini juga merupakan ajang kreativitas masyarakan untuk ide membuat pohon terang yang tidak biasa. Setiap tahun kawan-kawan dapat menemukan ide pohon terang yang berbeda.

pohon terang yang sudah berdiri sejak bulan november.


Yang menyenangkan juga bagi saya merayakan Natal di kota ini adalah aroma cat dari setiap rumah dan aroma bakaran kue dari setiap rumah. Setiap rumah pun penuh dengan kreasi masing-masing, tidak hanya pohon terang yang dihadirkan tetapi juga hiasan di dalam rumah masing-masing.

Ini salah satu contoh pohon terang yang terbuat dari botol bir.



Setiap malam tanggal 24 Desember, kebiasaan keluarga kami adalah berdoa tepat jam duabelas malam. Pada jam itu juga ada tradisi gereja membunyikan loncengnya. Tetapi sekarang karena sebelum jam duabelas pun sudah mulai bunyi petasan dimana-mana, kami selalu memutuskan untuk berdoa lebih awal. Selesai berdoa bersama, para tetangga biasanya berjalan dari satu rumah ke rumah lain untuk saling mengucap selamat Natal.

Oh ya, tanggal 22 dan 23 kemarin ada satu perhelatan bernama Christmas Carol yaitu panggung Natal di tengah jalan. Christmas Carol adalah panggung terbuka untuk setiap musisi dan artis lokal dari Ambon maupun musisi dari Jakarta. Di Christmas Carol kita dapat menyaksikan katreji (tari tradisional Maluku) yang berdansa senang di jalan.


katreji.

Makna Natal buat saya pribadi adalah damai dan sejahtera setiap hari. Merayakan Natal bagi saya itu setiap hari. Artinya lagi damai dan sejahtera itu harus saya bawa kemanapun saya pergi setiap hari.

pohon terang dan pemandangan dari depan rumah saya.


pohon terang di atas dermaga paparisa amahusu.

Semoga suatu waktu kamu bisa menikmati Natal di kota Ambon. 

Friday, January 13, 2017

#trotoARTisback : biarkan kesenian tumbuh di jalan dengan liar!









#trotoARTisback bukan hanya sebuah tagar. Ini adalah sebuah kabar gembira kepada siapa saja yang pernah menikmati panggung trotoART sebelumnya. Baik itu sebagai pengisi acara atau hanya menjadi penonton dan tidak pernah absen dari trotoART volume satu sampai ke-tiga belas yang diadakan kurang lebih dua tahun yang lalu.

Dari namanya saja, kita sudah dapat bayangkan bahwa ini adalah panggung jalanan yang liar. Yang dapat menghadirkan siapa saja untuk merayakan kebebasan berkeseniannya di sini.

Panggung ini muncul karena adanya kebutuhan. Kebutuhan tiap seniman untuk tampil dan dapat mengekspresikan diri mereka melalui karya mereka. Dan itu bisa jadi siapa saja. Antusias setiap penampil juga bukan karena apa-apa, tetapi karena kepuasan yang mereka dapatkan untuk menghibur setiap penonton. 

Semua yang hadir untuk tampil maupun untuk menonton itu semua karena rasa sayang. Rasa sayang-lah yang pada akhirnya menyatukan setiap perbedaan yang ada. Tidak hanya rasa sayang tapi juga rasa bangga karena dapat mencipta sebuah ruang berkarya dengan kualitas. Ruang yang tidak gagap atau asal ikut-ikutan. Penonton dan penampil pun berbaur dan meleleh dalam satu ruang berkesenian yang sederhana namun liar dengan keberagamannya. Untuk alasan inilah maka #trotoART patut dipertahankan. 

#trotoART kemudian menjadi sebuah panggung yang paling diminati anak muda. Semua pelaku seni: musisi, hip-hopers, penyair, pelukis, pemain teater, semuanya turun ke jalan dan merayakan seni tanpa batas apapun.

ikan asar band yang tampil pada #trotoART volume 6.

Saya sendiri beberapa kali mendapat kesempatan untuk membaca puisi di panggung #trotoART. Membaca puisi di panggung #trotoART bagi saya adalah candu. Karena antuasiasme penonton yang duduk di jalan dari yang paling muda hingga paling tua. Sekali lagi seni memang milik semua orang. Tidak ada batasnya.

saya membaca puisi di #trotoART volume 13.

kerumunan penonton #trotoART yang berhasil diabadikan oleh adit retraubun. 

Hal ini mengingatkan perbincangan saya dengan Barry Likumahuwa (musisi) beberapa waktu yang lalu. Barry sendiri mengatakan bahwa "#trotoART keren! dan nyesel karena hanya nonton dari video. Kepengin nonton langsung."

Semoga kawan-kawan tidak lupa untuk ikut hadir di tanggal 19 Januari 2017 nanti, karena #trotoARTvol14 akan ditayangkan secara langsung kepada kawan-kawan semua yang rindu. Dan bagi yang ingin menampilkan seni dan kreativitasnya dapat menghubungi Millian Vijay di 082199030891.

Biarkan kesenian tumbuh di jalan dengan liar. Tak perlu disisipi dengan kepentingan politik apapun atau narasi-narasi perdamaian besar. Karena dengan berkesenian secara jujur, di situlah perdamaian sedang dikerjakan.  

Sunday, January 1, 2017

Tempat Paling Liar di Muka Bumi: Ambon Manise




 
Selamat datang di Tempat Paling Liar di Ambon!

Akhirnya, “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” bisa kami bawa pulang ke Ambon Manise. Perjalanan panjang buku kami ini adalah sebentuk tanggung jawab kami berdua untuk memperkenalkannya kepada khalayak. Kami percaya itu dan kami melakukannya. Dari Bandung ke Salatiga hingga Jogjakarta lalu Jakarta, dan kini di Ambon.

Lima belas Desember kami menjejakkan kaki di tanah yang manis ini. Sinar matahari yang hangat menghalau sisa-sisa kantuk di mata kami. Rindu berjatuhan sepanjang perjalanan menyisir pesisir. Angin dari laut yang bertiup pagi-pagi menebar aroma bau laut yang selalu kami rindukan. Ambon memang tempat paling liar di muka bumi.

Selain Ramadhan, Desember adalah kata lain untuk salah satu keramaian yang khas kota ini. Liburan yang lumayan panjang memberi kesempatan bagi banyak orang untuk pulang dan menikmati kota tua di Teluk Ambon ini. Sebuah reuni akbar. Saat-saat yang menyenangkan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Kami pun ikut merasakan euphoria itu.

15541283_10154848157682258_8706810966544410731_n
Ambon Manise
Setelah sempat kami tunda, “Pesta Tempat Paling Liar di Muka Bumi” akhirnya berlangsung pada 28 Desember 2016. Suatu malam yang hangat dan meriah di Workshop Coffee, Ambon. James Renyaan dan Paet Lelyemin adalah dua lelaki muda pemilik Workshop Coffee yang banyak sekali membantu kami. Mereka menyediakan semua yang kami butuhkan. Workshop Coffee memang bukan rumah kopi biasa. Ada semangat untuk tidak hanya mengembangkan usaha, namun juga usaha sengaja mereka untuk memberi ruang-ruang bagi kerja-kerja kreatif. Kami sangat berterima kasih dan merasa beruntung memiliki mereka di Ambon.

Pukul dua siang bung Delon Imlabla bersama Marthen Reasoa, Cryme Rumadjak, dan Norman Angwarmasse telah mendahului kami ke Workshop Coffee. Mereka dengan serius mempersiapkan panggung kecil dan sound system untuk “Pesta Tempat Paling Liar di Muka Bumi” malam nanti. Morika Tetelepta pun telah menyediakan ukulele yang akan menemani bernyanyi sepanjang malam. Sampai pukul delapan, bung Delon dan kawan-kawan masih sibuk memastikan supaya tidak ada hal yang kurang. Kami berterima kasih untuk semua niat baik dan kerja keras bung Delon, Morika, Marthen, Cryme, Norman, dan Olnes.

Ada debar dan ketertarikan luar biasa, ketika “Pesta Tempat Paling Liar di Muka Bumi” hendak dimulai. Fis Project, duo romantik yang menemani kami dalam perjalanan memperkenalkan “Tempat Paling Liar di Muka Bumi”, membuka malam itu dengan hangat dan menawan. Puisi kami yang berjudul “Mencintaimu dari Jauh” dinyanyikan dengan syahdu diiringi petikan gitar dan gesekan biola. Awalan yang sempurna.

dsc_0342
Fis Project: Ferdy Soukotta & Chrisema Latuheru memulai Tempat Paling Liar di Ambon
Kami sangat senang bisa menyapa secara langsung para pembaca kami di Ambon dan kawan-kawan musisi, penyair, aktivis, juga kawan-kawan sepergaulan yang selama ini terus memberi semangat serta dukungan. Sambutan hangat dan gembira kami rasakan ketika puisi “Rumah Ombak” kami nyanyikan disela-sela puisi “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” yang kami baca berbalas-balasan.


dsc_0088
Theo dan Weslly di Tempat Paling Liar di Ambon

dsc_0044
"Tempat Paling Liar di Ambon"

Eko Saputra Poceratu, penulis dan penyair yang muda dan sangat produktif ini, membawa keceriaan bagi para penikmat pesta “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” malam itu. Puisi yang ia bacakan dengan gaya khasnya membuat orang-orang tergelitik dan merasa senang. Oh, mereka tergelitik oleh cinta yang kadang lucu. Sedapnya pesta itu begitu terasa.
dsc_0070
Eko Saputra Poceratu ditemani Ryo Niveu Marthen
Menyenangkan! Ada di antara semua orang yang tersenyum dan tertawa senang. Yuli Toisutta, Sally Alaydrus, dan Oman duduk paling depan, sementara Omega dan Herlin adalah sepasang kekasih di meja paling belakang. Ronny dan Dalenz, Ike dan teman-teman, Pdt. Rudy Rahabeat dan Pdt. Ruth Saiya, Bung Nico Tulalessy dan Usi Sonya Sahureka, serta teman-teman yang tak beranjak hingga pesta usai. Teman-teman dari Salatiga dan teman-teman mahasiswi kedokteran Unpatti, juga Katon, Edo, dan semua kawan dari Amahusu bertahan hingga pesta berakhir. Kami merasa senang bisa berbagi cinta di dalam puisi dan lagu. Semua nama yang tak kami sebutkan di sini, kami punya rasa sayang dan terima kasih yang dalam untuk kalian.

dsc_0028dsc_0086dsc_0061

Petra Ayowembun dan Marthin Feliz adalah sepasang kekasih yang kami mintakan kesediaan untuk membaca puisi-puisi dari buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi”, tetapi mereka berdua memberi kami sesuatu yang lebih dan istimewa. Marthin menerjemahkan dua puisi kami, “Sebotol Bir dan Bulan” ke dalam bahasa Spanyol dan “Mencintaimu dari Jauh” ke dalam bahasa Prancis. Romantis!

dsc_0109
Martin dan Petra di Tempat Paling Liar di Ambon


Malam yang penuh cinta. Marieonie Serhalawan dan Ryo Niveu Marthen melantunkan lagu-lagu cinta yang membuai semua orang. Marieonie adalah salah satu penyanyi kesukaan Theo, sementara Ryo Neviu Marthen adalah gitaris kesukaan saya. Kami senang bisa menikmati nada-nada dan lagu-lagu cinta yang mereka persembahkan dari hati, sambil sesekali dihanyutkan oleh tiupan seruling Marco Pattianakota.

dsc_0090
Theo menyambut penyanyi kesayangannya, Marieonie Serhalawan
dsc_0100
Marieonie diiringi Ryo Niveu dan Marco


Satu kolaborasi apik dihadirkan oleh Morika Tetelepta, Delon Imlabla, dan Sven Emerson. Puisi kami yang berjudul “Tentang Perempuan” dibacakan oleh Morika sambil diiringi oleh petikan gitar bas Delon dan senandung Sven Emerson. Kami semua dibawa ke dalam permenungan tentang perempuan-perempuan yang mengalami kekerasan seksual di mana-mana. Cinta bukan hanya tentang sepasang kekasih, tetapi juga tentang hidup semua orang.

dsc_0135
Morika Tetelepta membacakan "Tentang Perempuan"

dsc_0142
Delon Imlabla dengan petikan-petikan indahnya

dsc_0134
Sven Emerson bersenandung di Tempat Paling Liar di Ambon


Puisi-puisi yang dibacakan oleh Jaqualine Gaspersz dan Sally Souisa, Marthen Reasoa, Sven Emerson dan Tamara Latuihamallo, juga Aldy Patrik dan Yuli Toisutta tiba di telinga kami dan menghadirkan kesan baru tentang bagaimana luka, rindu, dan cinta bisa disampaikan tanpa ekspresi yang berlebih-lebihan, mengalir begitu saja; apa adanya.

dsc_0328
Yuli dan Aldi di Tempat Paling Liar di Ambon
dsc_0077
Sally dan Jaqualine di Tempat Paling Liar di Ambon
dsc_0157
Marthen Reasoa membacakan "Luka-Luka Cinta"


Malam yang berwarna. Ezra Dahoklory dan Dian Utami adalah sepasang kekasih lain yang entah bagaimana dapat memusikalisasikan puisi kami dalam waktu singkat dan menampilkannya malam itu. Puisi “Bukan Lagu” yang mereka bawakan begitu dinikmati oleh pendengar. Ada rasa cinta yang matang dalam puisi yang mereka lagukan.

dsc_0085
Ezra 'Maestro' Dahoklory  dan keluarga

Sebelum nanti membaca puisi bersama kekasihnya, Theizard Saiya menceriterakan pengalamannya mengerjakan sampul buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” juga perasaannya saat membaca draft pertama buku itu. Ia dan Florence, kekasihnya,  kemudian membaca sepasang puisi dari buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” dengan indah. Theizard jualah yang mengilustrasikan tiga puisi lainnya yang bisa dinikmati di dalam buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi.” Kami beruntung bisa berkolaborasi dengan pelukis sehebat dirinya.

dsc_0106
Theizard Saiya, ilustrator "Tempat Paling Liar di Muka Bumi"
dsc_0103

Pesta menjadi semakin ramai dan hangat saat David Rampisela menyanyikan lagu “Segera” dari Albumnya yang bertajuk “Lagu-Lagu Yang Ditulis Bulan Juli”. Semua orang ikut bernyanyi. Ada bagian-bagian dari lagu itu yang sudah akrab di telinga pendengar. Ada rasa senang, ketika pemilik Workshop Coffee; James dan Paet, juga kami undang untuk membaca puisi dan menceriterakan kesan mereka tentang buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi.” James membaca buku ini dalam penerbangannya menuju Ambon. Ia menghabiskan buku ini di udara.

dsc_0276
James Renyaan di Tempat Paling Liar di Ambon
dsc_0264
Paet Lelyemin di Tempat Paling Liar di Ambon


Bergerak dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya, Rudi Fofid memenuhi janjinya untuk membaca puisi di malam itu. Dua puisi yang dibacakannya mengundang tepuk tangan dan membangkitkan kegembiraan. Rudi Fofid adalah penyair yang banyak sekali menginspirasi orang-orang muda di kota Ambon dengan puisi-puisi dan pribadinya.

dsc_0291
Rudi Fofid di Tempat Paling Liar di Ambon
Suasana pesta yang berbeda dari kota lainnya ternikmati di sini, di Ambon Manise. Di belakang buku “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” sesungguhnya ada banyak nama, dukungan, dan semangat yang terus kami terima dari waktu ke waktu. Pierre Adelaar Ajawaila, ia selalu ada saat kami membutuhkan pertolongan dan tak pernah menolak bila itu bisa dikerjakannya. Terima kasih dan rasa sayang yang dalam dari kami.

Fis Project kembali ke panggung untuk menutup malam pesta dengan puisi-puisi yang mereka lagukan begitu menyentuh. “Jangan Berani” dan “Punggung Sepasang Kekasih” adalah dua lagu yang menutup penampilan perdana mereka di kota Ambon. Kami puas dengan semuanya dan merasa ada semangat yang mengalir di dalam diri kami.

dsc_0341
Fis Project, sekali lagi


Aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu, tanpa banyak kekhawatiran” adalah mantra yang kami bawa ke mana-mana. Malam itu kami mengajak semua orang menyanyikannya. Banyak hal tentang kemarin dan esok yang membuat manusia khawatir, tetapi satu hal menjadi jelas, tugas kita adalah mencintai sungguh-sungguh, penuh-penuh, hari ini. Ya, hari ini.

Terima kasih telah memberi kepada kami pengalaman yang begitu puitis. Kami beruntung mengalaminya bersama kawan-kawan sekalian. “Pesta Tempat Paling Liar di Muka Bumi” hanya mungkin karena kawan-kawan semua memberi apa yang paling berharga dari hidup: waktu dan cinta.

img_6836
Tempat Paling Liar di Muka Bumi

Salam sayang dan Selamat Tahun Baru dari #TempatPalingLiarDiMukaBumi,

Theo & Weslly


Untuk semua foto yang begitu bagus, kami mau bilang terima kasih untuk @erzhalphoto dan @makhlukamin.