Skip to main content

Posts

Lebih Peka Dengan Keadaan Sekeliling

Recent posts

#Memori20Maluku

Meluangkan waktu untuk mengingat adalah sebuah pekerjaan pelik. Namun, jika kita benar-benar melakukannya, barangkali kita dapat meninggalkan sebuah jejak kecil yang berumur panjang bagi orang lain, setelah kita tiada nanti. Jejak-jejak ingatan itu, barangkali tidak hanya manis, ia bisa jadi kecut bahkan cenderung pahit. Apalagi ketika dihadapkan dengan sebuah kenyataan: mesti mengingat kembali pengalaman konflik kemanusiaan yang terjadi di Maluku pada tahun 1999.
Molucca Project bermaksud mengajak teman-teman untuk merayakan  ingatanmu, dengan memeriksa kembali benda-benda yang masih tersimpan di rumahmu, yang membawamu kepada ingatan selama 20 tahun terakhir ini. Misalnya, sebuah tas ransel berdebu di pojok kamar kedua orang tuamu. Ketika melihatnya kembali, ada ingatan yang muncul lagi di kepala, sebab di dalam tas ransel itu, masih tersimpan rapi ijazah sekolah dan surat-surat penting lainnya, yang sempat terselamatkan ketika kamu dan keluargamu mengungsi dulu. Atau barangkali, seb…

Tunjukkan Apa yang Kita Cintai Dari Atas Panggung

GRIZZLY CLUIVERT NAHUSULY mulai menyayangi Hip Hop sejak ia masih duduk di kelas tiga SMP. Di tengah-tengah pencarian jati dirinya, Icy, begitu ia disapa, menemukan Hip Hop. Ia merasa tidak hanya menemukan apa yang selama ini ia gemari, ia justru menemukan dirinya sendiri.
"Saya sempat gabung di dalam paduan suara, dan kemudian saya temukan satu warna, yang rasanya saya banget, karena musiknya tidak terlalu mengandalkan suara yang merdu. Akhir 2010, saya tertarik, dan mulai mengikuti sebuah lomba namanya, BKKBN rap contest." Icy memulai ceritanya pada satu petang yang syahdu sambil menyeruput kopi hitam.
Dengan bekal binaan Hanny Wattimena (Hanny, seorang musisi Hip Hop 90-an), Hanny mendedikasikan waktunya untuk mengajar vokal, penguasaan panggung, dan bagaimana berinteraksi di panggung.
"Jam latihan kami waktu itu, biasanya jam 9 malam ke atas. Sejak saat itulah kecintaan saya terhadap Hip Hop mulai menjadi-jadi. Saya merasa bisa berekspresi dengan sesuatu yang membua…

Sebuah Perenungan dari Kota Musik: 'The City of Batang Kayu'

'Batang kayu,' begitu istilah yang ditujukan kepada penonton acara musik di Ambon. Jujur saja, pengalaman saya menonton acara musik di kota Ambon memang tidak banyak. Terhitung selama tiga bulan ini tinggal di kota Ambon, saya sempat datang ke 'konser kecil' yang diadakan oleh FIS DUO dan acara peluncuran album Amboina Bananas, yang keduanya diadakan di D'Lekker Food Court, Tanah Tinggi.
Pengalaman menonton kedua acara tersebut, asyik sekali. Paling tidak, saya tidak menemukan istilah penonton yang 'batang kayu' tadi. Saya justru mendapati penonton yang hanyut ke dalam setiap lagu dan performa dari musisi di panggung. Banyak yang ikut menyanyi, joged kecil, dan juga bertepuk tangan. Bahkan interaktif intim khas musisi dan penonton terjadi dengan natural dan tidak dibuat-buat. Hingga penilaian saya berubah.
Pada perhelatan musik, Amboina International Bamboo Music Festival, yang baru saja lewat dua hari kemarin, saya punya sebuah pengalaman lain. Kali ini s…

MANUMATA Dekat di Mata Tinggal di Hati

Manumata, artinya satu atap atau berasal dari satu mata rumah. “Karena katong samua basudara.” Filosofi inilah yang menjaga Manumata sebagai sebuah grup hip-hop  dan berhasil membawa mereka tinggal di hati banyak orang.

Pertama kali saya melihat Manumata tampil di panggung pada tahun 2015, dalam sebuah acara yang digelar di Pattimura Park. Karena mereka tinggal dan berasal dari ‘satu atap’ yang sama, Manumata lekas menarik perhatian saya dengan kekompakan mereka ketika di panggung.

Pada suatu petang, saya berkesempatan mengunjungi basecamp Manumata di kawasan Air Putri-Ambon untuk mengobrol dengan empat anak keren ini. Manumata yang terdiri dari Friti Putreisya Riry (Uthe, 13 tahun), Johanes Philipus Eurilwen Petrusz (Jho, 13 tahun), Everd Arnold Riry (Ever, 15 tahun), dan Oscar Imanuel Lena (Oscar, 12 tahun), selalu mampu mengambil hati penonton dari atas panggung. Bukan hanya muda, lincah, mereka juga energik dan penuh percaya diri.

Ternyata keluwesan mereka di atas panggung sudah terb…

#somegoodvibes: Penghapus Sunyi Bersama Olive & Joe

foto oleh Meno Latuny, lokasi di Kafe Cindy's, Salatiga.


Penghapus Sunyi Bersama Olive & Joe akan dirayakan, Rabu, 7 Maret 2018 di halaman belakang Kafe Cindy's, Salatiga, yang hijau dan semilir. Olive & Joe hanya akan mengundang teman-teman terdekat mereka untuk menghadiri perayaan ini, dan mereka berdua akan bernyanyi dengan intim sekaligus berbagi kisah mereka. Simak wawancara Molucca Project bersama Olive & Joe jelang acara di bawah ini:
Hai Olive & Joe, bagaimana sih rasanya jelang konser kecil Penghapus Sunyi?
Joe: Pengalaman pertama kami mengadakan konser ini, jadi ada deg-degan sedikit, bahagia juga sedikit, jadi rasanya netral. Hehehe.
Olive: Sama sih, tapi lebih ke deg-degan, soalnya pengalaman pertama, dan ini genre yang berbeda dari apa yang biasanya saya nyanyikan, jadi cukup menantang juga sih. 
Rencananya ada berapa lagu sih yang akan dibawakan di Penghapus Sunyi ini?
Joe: Rencananya kami bawakan tujuh lagu dan semuanya diciptakan sendiri. 
Terus, dari …

Salatiga dan Penghapus Sunyi: Segera!

Penghapus Sunyi adalah sebuah kesederhanaan yang mampir, menghantui, dan  menjadi kawan bagi malam-malammu yang sepi. Ia hadir melalui petikan  gitar dan alunan nada-nada yang mengalir renyah dari duo kekasih asal  Maluku, Olivia Isabela Tuhumena dan Johannes Latuny. Pada suatu petang,  ketika pendar-pendar cahaya matahari berjatuhan di sela dedaunan,  Johannes yang akrab disapa Joe bercerita, "Lagu ini saya tulis ketika  sedang long distance relationship. Coba bayangkan saja, kita kehilangan  seseorang yang bisa diajak ngomong apa saja, orang yang paling nyambung  di dalam kehidupan kita." Ia bercerita dengan binar di matanya yang tak  mampu ia sembunyikan. Sementara Olive, kekasihnya, duduk di sampingnya  dengan senyum yang tak kalah merekah.
Kiprah Joe dan Olive dalam bermusik memang sudah tidak diragukan lagi.  Hingga kini mereka masih tergabung dalam Kurang Kerjaan Project, sebuah  Band yang dibentuk di Salatiga bersama empat kawan yang lain. Bersama  Kurang Kerjaan Proj…