Monday, November 21, 2016

Tempat Paling Liar di Muka Bumi : Jogjakarta




tempat paling liar di jogjakarta yang berlokasi di jalan raya seturan





Jumat, 18 November 2016. Hari itu kembali diguyur hujan. Kami tidak tahu mengapa setiap kali kami hendak membuat peluncuran Tempat Paling Liar di Muka Bumi selalu saja hujan datang menemani. Mungkin sudah nasibnya begitu.

Tergopoh-gopoh dari Salatiga, kami menumpangi bis jurusan Solo. Memasuki Solo, kaca jendela bis yang kami tumpangi pecah. Usut punya usut, kaca jendela tersebut pecah dikarenakan terkena lontaran batu dari laju kendaraan dari sisi jalan yang lain. Bis sempat berhenti karena ada satu penumpang yang berdarah dan harus mengurusi ke pihak kepolisian. Untunglah ketika kami diturunkan, kami tinggal menyeberang untuk naik bis lainnya ke arah Jogjakarta.

Drama bis belum usai. Kali ini bis jurusan Jogjakarta yang kami tumpangi pun memiliki kondisi yang lumayan reyot. Kekhawatiran kami pun menjadi kenyataan, persis di depan Prambanan, bis yang kami tumpangi pun mogok dengan sukses. Kami lalu mencari akal supaya segera sampai di tempat acara. Dengan menumpangi ojek, kami lalu menuju Terminal Trans Jog. Sesampai di sana, menunggu hampir 30 menit baru kemudian kami bisa naik Trans Jog menuju ke Terminal Bandara Adisucipto. Kemudian dari Bandara Adisucipto dengan menumpangi taksi kami lalu menuju D’Beer Cafe di jalan Seturan.

Selamat sampai di tujuan! Makan sebentar, menunggu kawan-kawan datang, baru kemudian kami mulai #tempatpalingliardijogjakarta. Acara pun dibuka oleh kami berdua dengan puisi Mantra “Aku ingin menjadi tenang dan mencintaimu tanpa banyak kekhawatiran” Setelah itu giliran Fis Project yang menguasai panggung dengan syahdu. Di malam itu mereka melagukan puisi dari Tempat Paling Liar di Muka Bumi: Mencintaimu Dari Jauh, Jangan Berani, dan juga membawakan lagu mereka sendiri. Beberapa kawan-kawan asal Maluku yang hadir di malam itu juga membacakan puisi dari buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi: terima kasih kepada Bimbim, Michael Alfredo, Idra, Fahmi Pellu dan Larasati, Garry dan Devi.

 fis project yang tetap syahdu

fahmi dan laras yang membacakan puisi dari tempat paling liar di muka bumi

Hadir juga Mas Her dari Jogjakarta yang membacakan puisi Wiji Thukul. Kerumunan malam itu penuh dengan keliaran-keliaran manis. Beberapa puisi yang dibawakan tidak hanya dari buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi, tetapi ada juga puisi-puisi ciptaan sendiri yang juga dilantunkan dengan berani. Keramahan dari D’Beer Cafe juga patut kami sanjungkan. Bukan hanya sudah menyediakan tempat yang nyaman, setiap kami juga dilayani dengan sangat baik.

Jogjakarta hangat dan liar. Pembacaan puisi, musik, bir dan teman-teman. Segala sesuatu biasa-biasa saja, namun berisi api. Cinta yang membakar tanpa menjadikan abu. Cinta yang seluas hidup: Nusa Ina, Leihitu, Leitimor, Wiji Thukul, bunga dan tembok, cinta yang berwarna. Maluku, Jawa, Papua, Kalimantan, beda nada-nada dalam satu lagu. Kami dan #TempatPalingLiarDiMukaBumi telah disambut dengan hangat.





Terima kasih Jogjakarta! Sampai jumpa di Tempat Paling Liar di Jakarta dan Tempat Paling Liar di Ambon, sesungguhnya keliaran-keliaran ini belum berakhir kawan!

Salam sayang dari Tempat Paling Liar di Muka Bumi,

Theoresia Rumthe & Weslly Johannes



Tuesday, November 15, 2016

#SeniBeta Perhelatan Seni Jalanan yang Terancam Dibubarkan







Pada Sabtu tanggal 12 November kemarin ada kerumunan besar yang terjadi di depan trotoar Hotel Mutiara. Pasalnya di hari itu sebuah perhelatan bertajuk #SeniBeta diselenggarakan di sana. Inisiator utama dari acara ini adalah Glenn Fredly bersama Ruma Beta. Tim Kreatif kecil-kecilan yang dibentuk: Sierra Latupeirissa, Pierre Ajawaila, dan Debra Soplantila (kawan-kawan Paparisa Ambon Bergerak) berhasil menghimpun pengisi acara untuk tampil di malam itu.

Deretan nama-nama penampil seperti: Dalenz & Friends, CN9 Band, General Expo Band, One Story Band, Pasir Putih Band, Ikan Asar Band, JP Band, Softeast Band adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat penikmat musik di kota Ambon. Selain itu Eros YAKUZA dan Filasz Inmiasa mewakili komunitas hip-hop. Tidak lupa Manumata, adik-adik rapper cilik yang berhasil memecahkan panggung malam itu pun turut serta. Diramaikan juga oleh Marthen Reasoa yang membaca dua buah puisi. HLND Dancer dengan gerakan-gerakan enerjik ketika membuka acara. Bahkan kawan-kawan yang memukul Totobuang dari Amahusu juga hadir untuk membunyikan pukulan mistisnya. 

kerumunan penonton yang menyaksikan eros dan filasz



#SeniBeta disengajakan untuk Ambon untuk mengumpulkan pelaku seni dengan latar belakang apa saja untuk dapat tampil. Helatan yang dibuat sangat minimalis dengan peralatan musik yang juga tidak ribet berhasil mencuri kerumunan penonton di malam itu. Setiap penampil mendapat kesempatan untuk membawakan dua sampai tiga lagu mereka. Tanpa malu-malu penonton yang datang duduk bersila di jalanan untuk menikmati acara.

totobuang dari amahusu


ikan asar band

Walaupun sempat tersendat-sendat, kendaraan tetap melewati depan panggung. Karena kesepakatan awal adalah jalan di depan Hotel Mutiara tidak boleh ditutup semua. Di antara lalu lalang kendaraan yang lewat, sempat beberapa kali mobil patroli polisi pun terlihat. Yang ada di dalam pikiran, hanya patroli biasa saja karena malam minggu. Semakin lama, mobil patroli semakin sering lewat. Dan puncaknya adalah, saya lupa, tepat pada pukul berapa, namun ketika itu Ikan Asar Band sedang membawakan lagu Ambon Manise persis di bagian reff-nya “Ambon Manise, su talalu manise, Ambon Manise su talalu manise ...” terlihat polisi memasuki kerumunan, melewati depan panggung dan berjalan berbaris dan langsung menemui Bapak Hen Toisuta, yang pada saat itu hadir dari Dinas Perhubungan. Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang mereka dikusikan. Kerumunan kemudian terpecah menjadi dua. Kali ini kerumunan kecil persis di sebelah panggung sedang berdiskusi alot dengan pihak kepolisian.

Cerita punya cerita, katanya acara di malam itu tidak punya izin keramaian. Hal tersebut mengkhawatirkan, karena bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Acara terancam bubar pada saat itu juga. Tapi karena proses melobi yang dilakukan dari pihak tim kreatif #SeniBeta dibantu dengan beberapa rekan maka hasilnya adalah pihak kepolisian mengizinkan acara tetap dilanjutkan dengan catatan hanya boleh membawakan dua lagu terakhir. 

Sayang sekali padahal acara #SeniBeta ini dilakukan tepat dua minggu setelah dicanangkannya Ambon Kota Musik Dunia. Semboyan yang memang masih kontroversial di antara masyarakat Ambon sendiri, teristimewa pengguna media sosial. Dan terlepas dari izin keramaian yang sempat tidak diperhitungkan dengan baik. Semoga lain kali hal ini adalah yang paling pokok yang harus diperhatikan. Sementara itu kepada pihak kepolisian yang datang, seharusnya tidak datang dengan sikap yang mengintimidasi. Baiknya lebih santai sedikit dan jika memang harus memeriksa dapat langsung menghubungi panitia yang ada. Bukan lalu menunjukkan lagak yang malah membuat penonton bertanya-tanya.

Setelah trotoART, Bagara, kini #SeniBeta. Sejujurnya kota ini memang haus dan butuh lebih banyak lagi asupan panggung di jalanan. 

(foto via. facebook: debra soplantila)



Wednesday, November 2, 2016

Kalawai Rap Crew : Maluku itu, Kita Cinta Ngana!




foto dok. kalawai





Di tengah kasak-kusuk yang beredar dibalik pencanangan Ambon sebagai kota Musik Dunia. Diam-diam Kalawai Rap Crew, grup hip-hop yang berasal dari Halmahera, Maluku Utara, berangkat ke Ubud Writers and Festival (UWRF 2016) dan berbagi tentang perdamaian melalui musik mereka. Dua sesi yang mereka isi adalah, sesi performance, dimana mereka membawakan sekitar delapan buah lagu ciptaan mereka sendiri. Dan yang ke dua adalah sesi bicara di Main Programme UWRF 2016 dengan tema Make Art Not War. Di sesi kedua ini Kalawai Rap Crew tidak sendirian, bersama dengan Bri Lee, seorang aktivis perempuan dari Jerman dan The Brothahood, grup hip-hop Muslim asal Australia. Tanpa tedeng aling-aling mereka menyuarakan perdamaian.

Seperti tombak yang menancap tepat pada sasaran. Demikian nama adalah doa. Terbentuk di Salatiga, 28 Agustus 2012. Warung pisang goreng di pojok kota Salatiga yang menjadi saksi ketika Sony, Victor (Tox), Deny, dan Melky kemudian berembuk untuk membuat sebuah grup hip-hop. “Waktu itu kita datang dengan kegelisahan yang sama. Kerusuhan terjadi lagi di Tobelo. Dan kalau demo terlalu mainstream, maka kita mau bikin lagu saja.” Cerita Tox bersemangat. “Ada dua nama yang keluar kala itu, Kalawai dan Doti. Namun karena beberapa pertimbangan, akhirnya kita pakai nama Kalawai. Yang mau kita tombak adalah segala macam perbedaan yang ada.” Tox melanjutkan ceritanya.

Setelah diskusi berlanjut, akhirnya lahirlah lagu “Peace For Halmahera.” Lagu ini lahir sebagai pesan damai yang ingin disampaikan oleh Kalawai Rap Crew dari tanah rantau kepada saudara-saudara di Tobelo yang sedang rusuh pada waktu itu. Peace For Halmahera direkam di studio milik kawan dari Bounty Crew (salah satu grup hip-hop lainnya). Begitupun dengan proses mixing, mastering, hingga pembuatan video klip yang semuanya dibikin alakadarnya saja. Harapannya sederhana, mereka ingin menyuarakan perdamaian lewat lagu mereka.  

Lain halnya dengan Sony, yang sedang menyelesaikan studi Psikologi di Universitas Kristen Satya Wacana ini, bercerita bahwa bersama Kalawai Rap Crew, ia dapat menyuarakan isi hatinya. “Beta juga merasa bahwa sudah cukup. Pada saat kerusuhan beta pung kedua orang tua dibunuh di depan mata. Dan kalau beta seng memaafkan maka dendam itu akan terus sama-sama dengan beta.” Sony pun tanpa ragu menyuarakan isi hatinya. Tombak jugalah yang memutuskan segala kemarahan dan diganti dengan memaafkan. 

Sampai saat ini sudah ada sekitar 52 lagu yang diunggah ke saluran reverbnation mereka. Lagu-lagu tersebut 90 persennya adalah lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Cinta dan perdamaian tentu saja adalah tema yang kebanyakan mereka tuangkan di dalam lagu mereka. Tidak hanya itu mereka pun punya kerinduan untuk menyanyikan lagu-lagu mereka dalam bahasa Halmahera sendiri dan dapat kita temukan dalam lagu “Tara Bafoya” dan “Kapan Pulang Halmahera.”

Karena bahasa adalah identitas, mereka tidak ragu sedikitpun untuk memakai lirik dengan bahasa Halmahera. Begitupun ketika bicara tentang Maluku, ada rasa bangga kemanapun mereka pergi. Hal ini pun mereka tuangkan ke dalam lagu “Kanapa Malu Bilang Maluku” satu lagu yang merupakan hasil kolaborasi dengan Tickang Palungku.

Tidak ada yang dominan dalam menulis lirik lagu. Semua lebih intuitif dan berproses bersama. “Tinggal kasih satu tema, lalu semua dapat menulis tentang tema tersebut. Tinggal nanti kita pilih, mana yang paling pas di bagian awal atau akhir” ujar Sony.

Datang dari Halmahera dan bertemu saat masih kanak-kanak selagi tinggal di penampungan pengungsi di Manado. Kalawai Rap Crew menggunakan suara dan musik untuk membicarakan isu-isu sosial, ekonomi, ketidak seimbangan politik, dan sekaligus memperkenalkan musik rap kepada generasi muda Indonesia.

foto dok. gria garinati: sony dan tox ketika sedang berada di UWRF 2016

Itulah mengapa juga The Jakarta Post menuliskan tentang mereka ketika berhasil mengambil hati pengunjung UWRF 2016 beberapa waktu yang lalu:

“Their hard-hitting lyrics and intoxicating melodies sent the crowds singing and dancing together, celebrating rather than arguing about their different creeds, skin colors and ethnic identities.”

Tidak hanya menombak panggung UWRF 2016 hingga pecah dan membuat semua orang bergoyang. Kalawai Rap Crew pun sedang mendunia dalam diam.
   








Wednesday, October 26, 2016

Kurang Kerjaan Project : Maluku itu Identitas, Harmoni, dan Manis









Mari berkenalan dengan Kurang Kerjaan Project. Grup akustik perpaduan Maluku dan Kupang yang bertemu di Salatiga. Digawangi oleh Johannes Latuny (Anes), Olivia Tuhumena (Oliv), Frellian Tuhumury (Ian), Hendrik Boro (Endik), Wanly Bia, dan Hanny Tuhuteru. Mereka pun ikut menghibur penonton yang hadir pada acara Tempat Paling Liar di Salatiga dengan lagu-lagu mereka yang syahdu.

Kurang Kerjaan Project terbentuk dua tahun lalu. Lahir begitu saja bersamaan dengan lagu Bersama Malam. Bersama Malam tercipta ketika Anes, Endik, dan Michael Metekohy (Mike, salah satu teman) sedang bersantai di halaman kos. Suasana kos pada waktu itu sedang mati lampu dan sambil membuat api unggun di halaman kos dan menikmati bulan purnama di atas kepala. Lalu ide awal nama Kurang Kerjaan tercetus begitu saja oleh Mike. Sejak saat itu Kurang Kerjaan Project lalu mengajak beberapa teman lagi untuk bergabung dan memulai panggung pertama mereka.

Beberapa kali mereka terima undangan manggung di food court atau pernikahan. Dan seiiring dengan berjalannya waktu, saat ini mereka berkonsentrasi untuk menyelesaikan album perdana mereka. Namun sayang sekali ada kesibukan-kesibukan lain yang membuat album ini sedikit tertunda. Kurang Kerjaan Project termasuk saah salah satu band yang sangat produktif dalam membuat lagu. Hal ini terbukti dengan beberapa single yang sudah diluncurkan di soundcloud maupun di yutub mereka yaitu, Hijauku Pergi, Bersama Malam, Untuk Sahabat dan Juwita.

Inspirasi lagu dari Kurang Kerjaan Project biasanya datang dari dalam (cerita para personil) dan juga dari luar yaitu sahabat-sahabat. Misalnya Lagu Untuk Sahabat itu tercipta karena melihat sahabat yang saat itu sedang menyelesaikan skrispinya. “Hijauku Pergi dan Juwita pun demikian, kebanyakan nada-nada awal dari lagu-lagu itu datang begitu saja.” Cerita Anes. “Sementara aransemen musiknya sendiri nanti akan ditambahkan oleh teman-teman yang lain, biasanya Endik dan Wanly, yang akan membantu meramunya menjadi enak didengar.” Ujarnya lagi.

“Untuk aransemen musik, kami tak punya rencana awal bahwa musiknya bakal seperti apa. Semua mengalir saja dan yang penting sederhana tapi tetap menghibur.” Wanly menceritakan pengalamannya dalam meramu musik Kurang Kerjaan Project. “Tidak ada aransemen yang cukup terstruktur. Semua mengikuti rasa saja dan kombinasi dari semua pegalaman mendengarkan musik yang kami punya.” Endik pun menambahkan.

Masing-masing personil di Kurang Kerjaan Project pun punya proses mencipta sendiri-sendiri. Hanny kebanyakan menemukan nada-nada yang jarang ditemukan ketika sedang berada di dalam kamar mandi. Anes banyak mendapat inspirasi ketika sedang di jalan. Olive yang aktif di Vocal Group Lentera Kasih asuhan civitas UKSW biasanya mendapat inspirasi ketika sedang bernyanyi. Endik biasanya ketika sedang memegang gitarnya begitupun dengan Wanly. Sementara Ian tidak hadir ketika proses wawancara ini dilakukan karena baru saja di-wisuda dan berkumpul bersama keluarganya.

Album Kurang Kerjaan Project memang masih digarap. Namun ada bocoran sedikit mengenai album mereka yaitu dari mulai proses rekaman sampai pasca rekaman semuanya digarap sendiri termasuk mixing, mastering dan pembuatan cover album. Jadi dapat dikatakan mereka sangat independent. 

Yang menarik dari Kurang Kerjaan Project adalah mereka adalah anak-anak muda yang berani untuk membawakan lagu ciptaan mereka sendiri dimana pun mereka tampil. Semoga ketika album Kurang Kerjaan Project rampung nanti, lantas menjadi Banyak Kerjaan Project ya kawan-kawan! Sukses terus!

Tuesday, October 25, 2016

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Salatiga





menampilkan rumah ombak 



Salatiga tetap kota yang menyenangkan meski beberapa hari belakangan kerap bertabur gerimis. Kota yang ramah ini tidak sepi dari gerilya-gerilya seni. Membawa buku kami, Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, ke kota ini adalah sebuah pengalaman baru yang menggairahkan. Kami disambut dengan hangat oleh kawan-kawan asal Maluku yang sementara belajar sambil mengerjakan seni dan hal-hal kecintaan mereka di Salatiga.

Rabu malam di kampus Universitas Kristen Satya Wacana kami berjumpa dengan Gracia Miranda Matruty, Minondhy Kastanya, Big Greogory, Ramli Tomagola, Endik Boro, Hanny Tuhuteru, dan Beryl Syahailatua. Mereka dengan senang hati mau merayakan Tempat Paling Liar Di Muka Bumi bersama kami.

terima kasih kawan-kawan

Hujan yang turun sejak pagi perlahan berhenti. Pukul lima sore kami tiba di  Fifty/Fifty Coffee Shop milik Bram dan Wawan yang terletak di jalan Imam Bonjol 31. Dimas dan kawan-kawan telah menata ruangan sedemikian rupa untuk acara yang akan berlangsung satu jam mendatang. Bram dan Wawan menyediakan, tidak hanya tempat, tetapi sound system sederhana yang bisa kami gunakan secara cuma-cuma.

kehangatan di tempat paling liar di salatiga

Kami merasakan kehangatan yang meluap-luap. Perayaan malam itu berlangsung hangat dan sederhana. Semua wajah kami kenali. Kawan-kawan dari program studi Magister Sosiologi Agama UKSW, orang-orang muda pencinta musik dan puisi, dan  kawan-kawan dari media salatigacity.com menyambut dan mengapresiasi buku kami dengan senang hati. Kami pun bahagia karena di tengah kesibukan berkunjung ke Salatiga, Bapak pendeta Jan Matatula dan kekasih hati juga datang dan merayakan buku ini. Malam yang menyenangkan.

kiri-kanan: benny soumokil, vinsent oematan, usi nova latuny, theovania, ibu ma, bapak jan matatula



Kami membaca dan melagukan beberapa puisi dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi sebagai permulaan. Malam jadi syahdu ketika Fis Project, duet pasangan kekasih Fredy Soukotta dan Chrisema Latuheru, mulai memetik senar gitar dan mengiris dawai biola. Lagu-lagu terlantun begitu tenang dan menghanyutkan. Pasangan kekasih yang sedang menggarap album perdana ini menebarkan cinta lewat permainan musik dan lagu.

fis project - duet kekasih yang bikin malam tempat paling liar di salatiga makin mesra

Malam bertambah ramai, ketika Kurang Kerjaan Project membawakan lagu-lagu cinta. Kurang Kerjaan Project adalah proyek musik akustik yang dikerjakan bersama-sama oleh kawan-kawan di Salatiga. Mereka adalah Anes (vocal), Olivia (vocal)  Endik (guitar), Wanly (guitar), Ian Virion (instrument, beat producing, & cajon) Hanny (bass). Kami beruntung dan sangat senang memiliki mereka di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, Salatiga.

kurang kerjaan project dengan lagu-lagu yang tenang dan menghanyutkan

Empat single mereka (Bersama Malam, Harapku Dalam Diam, Hijauku Pergi, dan Dalam Cinta) yang sejauh ini telah dinikmati ribuan pendengar melalui saluran soundcloud, ditampilkan dengan sangat natural.

Di antara keramaian musik yang bersahut-sahutan dengan puisi, Beryl Syahailatua kami ajak untuk menceritakan lukisan-lukisannya. Bagaimana ia kini membangkitkan kembali kegairahannya untuk melukis di sela-sela kesibukan kuliahnya di Universitas Kristen Satya Wacana.

beryl dengan salah satu karyanya

Selain hangat, malam itu romantik. Ariel dan Adel, juga Mas Bayu dan Mbak Feri adalah pasangan-pasangan kekasih yang kami todong untuk mendialogkan puisi-puisi dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi pada malam itu.

adel & ariel membaca puisi lelaki dan gelisah - perempuan dan gelisah

Perayaan ‘Tempat Paling Liar Di Salatiga’ diakhiri dengan hangat dan manis. Kurang Kerjaan Project membawa semua orang ke dalam lagu ‘Buka Pintu’ dan ‘Three Little Birds’ yang dinyanyikan beramai-ramai. Terima kasih untuk semua kawan yang telah menyambut kami untuk berkolaborasi, menciptakan, dan merayakan ‘Tempat Paling Liar Di Salatiga’ tadi malam.

Salam sayang dari Tempat Paling Liar Di Muka Bumi,


Theoresia Rumthe & Weslly Johannes

-

* Foto oleh Beny Doulan Soumokil dan Juan Belegur 

* Bagi yang penasaran dan ingin menikmati lagu-lagu Kurang Kerjaan Project dan Fis Project, silakan   kunjungi saluran mereka di soundcloud:

Monday, October 24, 2016

Fis Project : Maluku itu Cinta, Negeri, dan Masa Depan





foto oleh juan belegur



Duet pasangan kekasih Ferdy Soukotta dan Chrisema Latuheru ini cukup menggemaskan. Tidak hanya jagoan bermain musik namun mereka juga mengkolaborasikan gitar dan biola sehingga menghasilkan bunyi yang apik. Di malam Tempat Paling Liar di Muka Bumi : Salatiga, mereka tidak hanya berbagi tentang musik mereka tetapi juga berbagi tentang perjalanan cinta dan karya-karya yang kemudian dihasilkan seiiring dengan perjalanan cinta mereka.

“Fis Project ini lahir karena musik ini menyatukan kita. Kita berdua punya kecintaan yang sama.” Ujar Ferdy ketika ditanya tentang bagaimana awalnya Fis Project lahir. Selain itu Fis Project juga adalah proyek yang dibentuk supaya ‘kisah cinta’ mereka pun dapat diterima oleh keluarga. Berbekal semangat untuk menebarkan cinta lewat setiap karya yang dibuat mereka percaya bahwa dengan cinta tembok sebesar apapun dapat mereka tembus.

Setahun sudah Fis Project berjalan dan diawali dengan meng-cover lagu-lagu orang lain sampai akhirnya lagu pertama yang mereka buat berjudul “Katong Pung Carita” yang diunggah di youtube. Lagu tersebut menurut Ferdy bercerita tentang doa dan cinta. Bagaimana mereka berdua bisa terus bertahan dengan menjalin hubungan jarak jauh satu dengan yang lain.

Saat ini Fis Project sedang mengumpulkan materi untuk merampungkan album perdana mereka yang menurut rencana akan berformat akustik dengan berisikan 8 lagu. Chrisema yang biasa disapa dengan Is bercerita bahwa setiap lagu yang ada di dalam album ini adalah penggalan cerita dari kisah cinta mereka. “Jadi karena ini adalah cerita tentang kita berdua, kita tidak mau ini dibuat-buat. Biarkan sesuai dengan perjalanan kita saja.” Ujar Is. Untuk merampungkan album ini Ferdy dan Is juga berencana untuk menjual kaos untuk mendukung proses rekaman yang saat ini sedang berjalan. Salah  satu kesulitan yang ada di dalam proses merampungkan album ini adalah bagaimana menyamakan referensi musik yang ada di dalam kepala keduanya. Ferdy yang sangat jazz dan Is yang sangat klasik. “Tapi kita tidak boleh kalah dengan ego kita.” Ferdy melanjutkan.

Ketika membuat musik niat dari Fis Project adalah untuk memberkati orang. Ada ekspresi yang ingin mereka tampilkan lewat musik mereka. Tapi ada juga beban yang dirasa di dalam jiwa mereka tentang bagaimana masih ada ‘tembok’ antara musisi satu dengan musisi lainnya. Belum ada sikap baik untuk saling menerima perbedaan karya satu dengan yang lain. Dan yang paling parah adalah masih adanya sikap saling merendahkan satu dengan yang lain.

Baiknya semuanya dikembalikan kepada niat. Semoga Fis Project terus menebarkan cinta lewat karya-karya mereka. Dan kami tunggu album perdanya.

  











Sunday, October 9, 2016

Teru; hiduplah mantra-mantra









moro; salah satu judul lagu dalam album teru karya morika tetelepta






MORIKA TETELEPTA akan meluncurkan album solo perdananya, Teru: solum, voda un aria. “Teru berasal dari bahasa tana (sebutan untuk bahasa-bahasa asli di Maluku) yang berarti tiga. Tiga yang dimaksud,” menurut Morika, “adalah tanah, air dan udara; unsur dominan yang direkam sebagai bunyi dalam lagu-lagu di album ini.” Kekuatan besar yang menggerakannya untuk menggarap album ini adalah rasa cintanya yang penuh kepada musik dan semesta; tanah, air, dan udara yang tak lain adalah dirinya.
Dalam pergerakan Hip-hop di Maluku, Morika Tetelepta bukanlah nama yang asing. Sejak 2008 bersama kawan-kawan rapper, DJ, dan dancer, ia membangun Molukka Hip-Hop Community. Gerilyanya bersama MHC berhasil membuat pundi-pundi musik Maluku diperkaya dengan satu genre musik yang belum pernah digarap sebelumnya, dan kepada anak-anak muda: sebuah pilihan bermusik yang baru.
Gerilya Morika dan MHC berdampak besar. Hip-hop di mana-mana; Ambon, Seram, Saumlaki, Buru, dan segala penjuru Maluku. Album mereka yang bertajuk ‘Beta Maluku’ membawa masuk Maluku ke dalam peta hip-hop Indonesia. Morika dikenal oleh pencinta rap dan puisi, karena lagu-lagu rap, lirik-liriknya, dan puisi-puisinya yang berkesadaran sejarah, tajam, dan berkekuatan. Kini ia kembali menciptakan sesuatu yang baru.
Teru adalah kisah baru. Sebagai album solo perdana yang dikerjakan Morika, Teru tidak hanya menjadi sebuah karya paling perdana, tetapi juga rambahan baru dalam perjalanan bermusiknya, dalam hidupnya. Teru adalah sebuah gerakan keluar dari zona nyaman. Morika bergerak keluar dari kecenderungan dominasi instrumen-instrumen elektrik dan kata-kata yang banyak seperti yang pernah dikerjakannya selama bertahun-tahun bersama Molukka Hip-Hop Community. Di dalam album ini Morika memperhadapkan kepada dirinya sendiri soal-soal ujian yang lebih berat.
Di sini, Morika bergerak merambah unsur-unsur alamiah. Bertekun mengindra bunyi, bau, tekstur, dan warna yang bertebaran di alam, mencoba menafsir dan menerjemahkannya ke dalam nada-nada dan irama yang kemudian dieksplorasi dengan hanya satu-dua kalimat pendek yang tak lain adalah mantra-mantra tua Maluku yang hampir punah. Morika berusaha memberi kepada mantra-mantra yang hampir mati itu kesempatan kedua.
Jikalau mantra habis, kita mungkin hanya akan mewarisi kenangan tentang mantra – dan pertanyaan pentingnya adalah: “Seberapa lamakah kenangan bisa bertahan?” tuturnya.
Keputusan Morika untuk memberi tenaga dan kemampuannya, juga jam-jam malamnya untuk merawat mantra-mantra berangkat dari kesadaran akan sebuah krisis. Semesta bahasa yang kian waktu kian miskin, karena pelan-pelan orang meninggalkan bahasa ibunya. Di dalam arus itu, mantra-mantra yang terlanjur dibikin kalah dan dicitrakan sebagai keburukan mengalami nasib yang jauh lebih buruk. Baginya, usaha merawat mantra-mantra ini belum terlambat.






14563299_10210439823173368_8609830614536835073_n
morika tetelepta, saparua 2016

Pengerjaan album ini, mulai dari perburuan mantra, penafsiran dan penerjemahannya ke dalam dunia musik hingga perampungannya,  berdampak tidak sedikit bagi Morika secara personal. Ia digerakkan untuk mempertajam kepekaan inderawi. Kepekaan yang membawanya ke dalam dunia dengar yang sama sekali baru dan membuatnya lebih jeli menangkap segala bebunyi, bebauan, tekstur, warna dan rasa.
Menurut Morika, mengerjakan Teru adalah pelatihan menafsir sekaligus menerjemahkan respon inderawi. Tak mengherankan bila Morika lebih gemar mendatangi Pulau Tiga dan Tapi di Wakasihu untuk memancing dan re-kreasi. Sebuah pilihan untuk lebih banyak bersentuhan langsung dengan elemen-elemen natural di dalam album Teru yang telah dirampungkan untuk segera diluncurkan itu.
Teru adalah kesadaran sejarah dan sebuah solusi sekaligus kritik. Pemberangusan bahasa-bahasa lokal seperti tampak dalam mantra-mantra yang nyaris punah disadari dan coba dicari jalan keluarnya. Beberapa mantra yang diselamatkan dengan indah oleh album ini sekaligus menjadi peringatan bagi kecenderungan pengabaian atas kekayaan bahasa asli dan energi budaya yang bertalian dengan sebab-sebab kerusakan tatanan kosmis yang hari-hari ini mulai dirasakan dampaknya.
Morika mencintai musik. Ia merdeka di sana. Baginya musik bukan hal yang remeh. “Musik meyelematkan hidup saya. Bagi saya pribadi, suatu karya keselamatan adalah perkara yang tidak main-main,” kata Morika ketika berkorespondensi dengan Molucca Project. Dengan album ini, Morika melakukan hal yang persis sama dengan apa yang telah diperbuat musik kepada dirinya: memberi kehidupan, satu nyawa yang lebih panjang, bagi mantra-mantra tua di Maluku.

* Moro; salah satu lagu dari Album Teru akan dibagikan secara cuma-cuma menjelang peluncuran album. Ikuti kabar-kabar terbaru tentang paluncuran Album Teru via twitter:  @morikatetelepta (tulisan ini juga diterbitkan di sini).